Soroti Video Viral Pecel Lele Malioboro, PHRI DIY Dorong Edukasi Bagi Pedagang dan Wisatawan

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DI Yogyakarta berharap viralnya video pecel lele 'nuthuk' di Malioboro tak perlu dibesar-besarkan.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Santo Ari
Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DI Yogyakarta berharap viralnya video pecel lele 'nuthuk' di Malioboro tak perlu dibesar-besarkan.

Namun, perlu langkah edukasi, baik kepada pedagang dan wisatawan, supaya insiden seperti ini tidak terulang.

Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono menyampaikan, para pedagang jangan pernah sekalipun menaikkan harga di luar batas kewajaran di tengah situasi nan sulit ini.

Baca juga: Pemkot Magelang Luncurkan Perpustakaan Outdoor Sebagai Fasilitas Masyarakat Agar Gemar Membaca

Sebab, hal tersebut akan mencoreng muka Yogya sebagai kota pariwisata dan membuat pelancong kapok.

"Pandemi ini kan sektor pariwisata terpuruk, insiden seperti itu jelas mencoreng. Sekarang baru mulai bergeliat, tapi jangan terus aji mumpung," katanya.

Hanya saja, wisatawan juga diminta untuk memahami dan menyesuaikan komoditas yang hendak dibelinya, dengan kondisi keuangan.

Pasalnya, ia menambahkan, hampir mustahil menerapkan standarisasi harga, terkhusus makanan, di sepanjang Jalan Malioboro.

"Misal, kita minum kopi di starbucks, hotel, dan angkringan. Sama-sama kopi, meski kemasannya beda. Tapi, harganya juga pasti berbeda kan itu," cetus Deddy.

"Nah, sekarang tinggal pembelinya. Oh, ini kok mahal, ya, nggak usah aja. Standarisasi harga sulit, biar saja begitu, nanti pasarnya tersaring juga," lanjutnya.

Baca juga: Pembahasan AMDAL Pelabuhan Gesing Gunungkidul Tengah Dilakukan

Terlebih, ia meyakini, semua penjaja makanan di kawasan Malioboro sudah memasang daftar harganya. Sehingga, wisatawan pun bisa leluasa memilih tempat, maupun hidangan, sesuai selera dan anggarannya.

"Sekarang yang penting semua pelaku pariwisata harus menjaga, jangan sampai baru mulai kedatangan tamu, eh sudah aji mumpung. Jangan," kata Deddy.

"Lalu, wisatawan juga harus mengerti lah, selektif, sesuai kemampuan. Jadi, intinya, semuanya harus diedukasi, pedagang, wisatawan," tandasnya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved