Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta Angkat Bicara Tentang Viral Pecel Lele di Malioboro

Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta angkat bicara terkait fenomena viralnya wisatawan yang mengeluh karena mahalnya harga pecel lele

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja.com | Bramasto Adhy
Ilustrasi Jalan Malioboro 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta angkat bicara terkait fenomena viralnya wisatawan yang mengeluh karena mahalnya harga pecel lele Malioboro.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta, Aldi Fadhlil Diyanto meminta masyarakat termasuk pengguna jagat maya untuk tidak membesar-besarkan masalah ini.

Terlebih, Malioboro merupakan daerah wisata atau juga bisa disebut dengan kawasan premium.

Baca juga: Ajak Introspeksi, Pemkot Yogyakarta Minta Kasus Pecel Lele Viral di Malioboro Tak Diperpanjang

Sehingga harga makanan di kawasan ini memang lebih mahal dibandingkan tempat lain.

"Kalau memang kita sudah tinggal lama di Yogya, kita tahu bahwa Malioboro adalah ikon pariwisata di Kota Yogya. Otomatis kalau di wilayah wisata itu berbeda," jelasnya saat dihubungi Tribun Jogja, Jumat (28/5/2021).

Selain itu, lanjut Aldi, pelaku usaha di kawasan Malioboro selama pandemi Covid-19 ini telah menerapkan protokol keaehatan secara ketat.

Mereka juga harus menyediakan sarana dan prasarana untuk menunjang penerapan protokol kesehatan. Seperti mengadakan tempat cuci tangan, sabun, dan hand hanitizer.

Hal tersebut otomatis akan meningkatkan biaya operasional sehingga pelaku usaha memilih menaikkan harga.

"Otomatis biaya operasional bertambah. Ini juga perlu dilihat dari aspek ini. Kalau memang operasional bertambah sudah sewajarnya biaya itu ditambah," paparnya.

Baca juga: FAKTA Video Viral Pecel Lele Malioboro, Pelakunya Bukan PKL dan Sudah Terpampang Daftar Harga

Lebih jauh, Aldi pun meminta kepada masyarakat untuk bijaksana dalam menyikapi postingan di media sosial.

Karena pengguna internet tidak pernah tahu motif seseorang untuk menggunggah pendapatnya di media sosial. Apakah murni ingin mengungkapkan unek-unek atau sekadar mencari perhatian.

"Jadi perlu kebijaksanaan dalam menyikapi medsos baik bagi yang mencerna dan memposting," teragnya.

"Saya juga tidak menyalahkan orang yang posting. Mungkin karena mnasih belia jadi memukul rata semua makanan di Yogya murah. Padahal di Yogya juga ada yang mungkin lebih mahal," paparnya. (tro)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved