Breaking News:

Atlet Gantole DIY Tetap Berlatih Persiapkan PON Meski Tak Ada Kompetisi Untuk Uji Coba

Atlet gantole DIY, Muhammad Rosyid Ridho tetap berlatih mempersiapkan PON XX 2021 di tengah minimnya kejuaraan sebagai try out, akibat pandemi

Istimewa
Atlet gantole DIY bersama KONI DIY di Gunung Telomoyo untuk adakan latihan 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Atlet gantole DIY, Muhammad Rosyid Ridho tetap berlatih mempersiapkan PON XX 2021 di tengah minimnya kejuaraan sebagai try out, akibat pandemi Covid-19.

Dengan begitu, ia melaksanakan Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) bersama pelatihnya, Adri Relantia di Gunung Telomoyo dan Gunung Gajah, Jawa Tengah, selama dua hari, Rabu dan Kamis (26-27/5/2021).

"Untuk pelatihan rutin kami selalu menyesuaikan kondisi arah angin dari depan atau istilahnya headwind, guna menghadapi pertandingan di PON. Saat ini tahapan latihan untuk endurance ketahanan fisik bagi atlet Pak Rosyid, dan kepekaan dalam membaca thermaling yang ada untuk mencapai ketinggian yang diperlukan saat pertandingan di kelas cross country atau XC. Selain thermaling dan cliff, juga pelajari gumpalan awan yang bisa mengangkat ketinggian yang diperlukan," ujar Adri. 

Baca juga: Jogja Astro Club Ungkap Kilatan Cahaya di Puncak Gunung Merapi adalah Meteor Sekepalan Tangan

Dalam pelatihan itu, Ridho akan memulai take off di lokasi Gunung Gajah dengan ketinggian sekitar 1.200 meter (m). Juga di lokasi Gunung Telomoyo dengan ketinggian 1.500 m hingga maksimal 1.700 m. 

Hal ini guna memenuhi standar lombah pada nomor pertandingan XC, atlet harus mencapai ketinggian 1.500-1.700 m tersebut. Kemudian setelah mencapai ketinggian itu, atlet akan menentukan target menuju tern point atau TP yang sudah ditentukan untuk menuju TP selanjutnya. 

Perlu dicatatat, Ridho akan mengikuti dua nomor sekaligus di PON XX Papua yakni nomor andalannya XC dan nomor ketepatan mendarat.  

"(Hasil latihan) pada Rabu (26/5) shorty, lalu pada Kamis (27/5) shorty juga, dengan lama terbang 1-2 jam. Sejauh ini latihan khususnya untuk menghadapi PON, 2 kali seminggu, dengan prediksi untuk 1-2 bulan kondisi angin bagus, biasanya kami kroscek arah angin terlebih dahulu dengan menanyakan hal itu ke pihak Lok Terbang. Untuk bulan-bulan Lok angin headwind, di Telomoyo pada akhir Mei-Oktober, di Wonogiri pada Juni-Oktober, dan Parangtritis pada September-Maret," jelasnya.  

Sementara itu Ketua Umum KONI DIY, Djoko Pekik Irianto, yang berkesempatan melakukan monitoring dan evaluasi (monev) sekaligus pendampingan cabor gantole bersama dengan Tim Satuan Tugas (Satgas) PON XX Papua Provinsi DIY, mengapresiasi pelatihan intensif yang dilakukan oleh atlet senior tersebut. 

Meskipun dalam latihannya, atlet kerap terkendala kondisi alam seperti cuaca berawan. Kendati begitu, pihak dari KONI DIY tetap mendorong supaya atlet dapat menjalani program pelatihan 18 jam per minggu.

Baca juga: FAKTA Video Viral Pecel Lele Malioboro, Pelakunya Bukan PKL dan Sudah Terpampang Daftar Harga

Pasalnya saat ini pelatihan atlet Puslatda DIY sudah memasuki tahapan prakompetisi. Sehingga untuk menutupi kekurangan jam latihan itu, pelatih dapat memberikan program latihan fisik. 

"Terkendala try out karena tidak banyak pengda cabor ini yang melakukan uji coba itu, solusinya bisa dilakukan latihan bersama dengan Tim Jateng misalnya. Ini bisa menjadi tolak ukur kita untuk evaluasi peningkatan prestasi menuju PON, yang waktunya tinggal lima (5) bulan lagi. Perbanyak jam latihan dengan tempat latihan beberapa alternatif, dan meski tidak bisa terjadwal setiap hari, kekurangan latihan bisa dengan latihan fisik untuk penuhi periode prakompetisi 18 jam per minggu. Pak Rosyid ini satu-satunya atlet gantole DIY yang termasuk senior dan diperhitungkan oleh lawan-lawannya, berharap dapat menghasilkan medali terbaik," pungkas  Djoko. (tsf)

Penulis: Taufiq Syarifudin
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved