Wawancara Eksklusif

Wawancara Eksklusif : Kadinkes Gunungkidul Dewi Irawaty Tekankan Kepatuhan Prokes

Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawaty memegang prinsip "Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati" demi mengakhiri pandemi.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Gaya Lufityanti
Tribun Jogja/ Alexander Ermando
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty 

TRIBUNJOGJA.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul selama lebih dari setahun terakhir penuh dengan kesibukan.

Pasalnya, instansi ini berada di garda terdepan dalam penanganan pandemi COVID-19, yang belum juga usai.

Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawaty yang memimpin para rekan-rekannya pun terus berjuang agar penularan di masyarakat terus bisa ditekan.

Pada saat yang sama, ia harus berupaya agar kondisi kesehatan para tenaga medis tetap terjaga agar pelayanan terus berjalan.

Pada Wawancara Eksklusif TribunJogja.com, Dewi menekankan betapa pentingnya kepatuhan protokol kesehatan (prokes).

Termasuk memegang prinsip "Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati" demi mengakhiri pandemi.

Baca juga: Wawancara Eksklusif : Kadinkes Sleman Joko Hastaryo Klarifikasi Tentang Sleman Masuk Zona Merah

Setahun lebih pandemi, apakah Dinkes Gunungkidul sudah mulai terbiasa dengan penanganan kasus saat ini?
Selama setahun ini tentu kami sudah banyak belajar, ada banyak pengalaman yang membuat pelayanan sekarang lebih baik. Pada dasarnya tidak banyak kesulitan, hanya saja harus mengikuti perkembangan ilmu tentang COVID-19 ini dari waktu ke waktu karena ada perubahan-perubahan. Pedoman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga berubah yang mana saat ini sudah di pedoman yang kelima, jadi selalu menyesuaikan. 

Ada perbedaan dalam penanganan pandemi di tahun pertama dan tahun kedua ini?
Jelas ada, kalau dulu karena panik segala hal dilakukan seperti kegiatan sterilisasi. Kalau ada pasien positif, petugas masih ada rasa takut. Sedangkan sekarang sudah ada pengalaman, bagaimana penanganan yang lebih aman. Petugas saat ini bisa lebih tenang. Masyarakat pun sekarang lebih terbuka, dulu masih banyak yang takut didiskriminasi dan distigmatisasi sekarang sudah banyak berkurang. Pemerintah juga semakin terbuka dengan prosedur dan pelayanan yang lebih baik. Jadi perubahannya saat ini lebih baik. 

Apa kendala yang masih dihadapi tim penanganan covid saat ini?
Mungkin ya terkait vaksinasi ini, sebisa mungkin terus berjalan jangan sampai ada jeda. Sedangkan penanganan di masyarakat, kendalanya di kepatuhan protokol kesehatan (prokes), yang masih ada yang belum patuh dan optimal penerapannya. Kunci dari pengendalian pandemi sebenarnya di 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak), bukan cuma di penanganan. 

Bagaimana anda memandang kepatuhan prokes saat ini?
Sebenarnya itu wewenang Tim Penegakan Disiplin, tapi saya pribadi sebagai masyarakat melihat masih ada masyarakat yang belum patuh 3M. Bisa jadi karena ketidaktahuan, sebab masih ada yang seperti itu, bahkan masih ada yang tidak percaya dengan COVID-19 meski makin lama makin berkurang. Kami masih lihat juga ada yang tidak memakai atau lupa membawa masker dan juga yang abai. Itu yang membuat penularan masih terjadi, yang artinya ada yang tak patuh prokes. 

Libur Lebaran sudah berlalu, menurut Anda ada potensi terjadinya lonjakan kasus baru?
Kami masih menunggu kira-kira dalam seminggu ke depan seperti apa situasinya. Kalau saya, mengingat masyarakat juga sudah diingatkan agar patuh terhadap prokes, yang bisa dilakukan adalah berdoa bagaimana supaya kasus bisa terus turun. Memang Gunungkidul secara umum melandai, hanya kematiannya yang tinggi. Sebab orang yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi berat, kadang belum sempat di-swab sudah meninggal dunia. Saya sendiri juga belum tahu apa yang menyebabkan mereka terlambat datang (ke RS). Jadi kami imbau kalo ada keluhan terkait pernapasan, panas, segera ke fasilitas kesehatan agar bisa cepat tertangani. Sebab pengunjung faskes sangat turun, bisa jadi ada ketakutan akan di-COVID-kan. Padahal dokter sendiri tidak ingin itu terjadi, namun menjalani prosedur yang ada. Kalaupun ada gejala demam, dokter curiga COVID boleh saja, tapi tidak meng-COVID-kan. Caranya dengan diperiksa kondisinya, kalau memang positif ya berarti COVID, kalau tidak ya tidak. Semua dilakukan sesuai prosedur. 

Apakah penerapan prokes dasar benar-benar jadi kunci pencegahan?
Ya, karena sekarang kan pemerintah sudah melonggarkan kegiatan masyarakat, tapi ingat 3M tidak bisa ditawar. Lewat pengalaman memang, ketika melakukan 3M saat beraktivitas niscaya tidak ada masalah, tidak terjadi kluster atau penularan yang sifatnya masif. 

Ada berbagai polemik soal vaksinasi, bagaimana Anda memandang itu?
Kami sebagai bagian dari kesehatan, sangat mendukung pemerintah ya. Semua sudah berupaya sedemikian rupa untuk menyiapkan vaksin, apalagi harganya tidak murah. Tentu kami berharap pada masyarakat, mungkin ada banyak informasi beredar soal vaksin, tapi kembali lagi harus percaya pada pemerintah. Kalau ada hoaks macam-macam, bandingkan dengan informasi resmi dari pemerintah, itu yang kita pakai. Karena pemerintah tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak ilmiah atau mencelakakan masyarakat. Kembali lagi, cari sumber informasi yang valid dari pemerintah. Kami sendiri setiap saat menggali informasi valid dari berbagai sumber seperti BPOM dan sebagainya. Yakinlah apa yang disampaikan pemerintah itu untuk kebaikan bersama. 

Bagaimana cara menjaga agar tenaga kesehatan (nakes) yang terlibat dalam penanganan covid?
Saya bisa lihat sendiri teman-teman di faskes bekerja sampai 24 jam, memantau dan bertemu pasien langsung. Jadi saya selalu ingatkan, boleh bekerja tapi diatur jadwalnya, karena kesehatan sebagai petugas tetap didahulukan. Kalau kondisinya tidak sehat justru tidak bisa melayani masyarakat. Prosedur dalam pelayanan sudah kami buat, tinggal kepatuhan dari teman-teman nakes. Tapi saya lihat mereka melayani sesuai prosedur. Berikutnya, mereka ini kan manusia biasa yang punya teman dan keluarga. Saat tidak bertugas, mereka tetap diminta hati-hati saat berinteraksi sebab di situlah titik lemahnya. Jadi mereka harus tetap ingat prokes kapan pun di mana pun. 

Apa harapan dan pesan Anda terhadap masyarakat agar pandemi bisa terkendali?
Mencegah lebih baik dari mengobati, sehingga pandemi ini bisa selesai dengan cara mencegah bukan mengobati. Pencegahan dengan melaksanakan 3M yang tak bisa ditawar, termasuk menjaga pola hidup bersih dan sehat, asupan gizi yang sehat dan cukup istirahat, olahraga dan tidak stres. Itulah yang akan menambah imunitas dan terhindar dari penularan COVID-19. Jika ada keluhan apapun silakan datang ke faskes, kami siap melayani. Hati-hati dengan informasi hoaks, yang meragukan silakan tanya pada sumber yang terpercaya, dalam hal ini pemerintah. Saluran banyak, bisa di Dinkes, Dinas Komunikasi dan Informatika, hingga Pemerintah Kabupaten. Kami terbuka.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved