Sikap Amerika Serikat-PBB Diantara Konflik Israel dan Palestina di Gaza

Amerika Serikat (AS) menyampaikan kepada PBB bahwa pihaknya siap membantu Palestina dan Israel untuk mencari jalan tengah.

Editor: Iwan Al Khasni
ANAS BABA / AFP
Sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel (kiri) mencegat roket (kanan) yang ditembakkan oleh Hamas ke Israel selatan dari Beit Lahia di Jalur Gaza utara. Israel menghantam Jalur Gaza dengan serangan udara, menewaskan 10 anggota keluarga dan menghancurkan sebuah bangunan yang menampung media internasional. 

TRIBUNJOGJA.COM Amerika ---- Amerika Serikat (AS) menyampaikan kepada PBB bahwa pihaknya siap membantu Palestina dan Israel untuk mencari jalan tengah.

Dengan syarat, gencatan senjata harus tercapai.

Berbicara dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB hari Minggu (16/5/2021), duta besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield menyampaikan niat baik AS mengakhiri kekerasan yang memburuk antara Israel dan militan Palestina di Gaza.

"Amerika Serikat telah bekerja tanpa lelah melalui jalur diplomatik untuk mencoba mengakhiri konflik ini.

"Kami yakin masyarakat Israel dan Palestina sama-sama memiliki hak untuk hidup dalam keselamatan dan keamanan," ungkap Thomas-Greenfield, seperti dikutip Reuters.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan PBB secara aktif melibatkan semua pihak menuju gencatan senjata. Selanjutnya, semua pihak akan didesak untuk mengupayakan mediasi.

AS, yang notabene adalah sekutu dekat Israel, selama ini dianggap terlalu subjektif menyikapi konflik di antara Israel dan Palestina.

Dalam pertemuan akhir pekan kemarin, China, yang menjadi pemimpini pertemuan, juga menegur AS agar bersikap adil dalam upaya meredam situasi di kawasan tersebut.

"Kami menyerukan kepada AS untuk memikul tanggung jawabnya, mengambil sikap yang adil, dan bersama dengan sebagian besar komunitas internasional untuk mendukung Dewan Keamanan dalam meredam konflik," ungkap Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

Pertemuan Dewan Keamanan PBB pekan lalu awalnya diagendakan pada hari Jumat, namun ditolak oleh delegasi AS karena dianggap terlalu terburu-buru dan tidak akan menghasilkan apa-apa.

Sebagai pemegang hak veto, permintaan AS tersebut dianggap menghambat upaya penyelesaian konflik yang mestinya dilakukan sesegera mungkin.

Dikutip dari Reuters (17/5), korban tewas di Gaza melonjak menjadi 188 dalam semalam, termasuk 55 anak-anak akibat serangan udara dan artileri Israel sejak pertempuran meletus Senin lalu.

Di lain pihak, 10 orang tewas, termasuk 2 anak-anak, di Israel dalam ribuan serangan roket oleh Hamas dan kelompok militan lainnya.

Seperti diketahui ketegangan Israel-Palestina kembali memanas sejak Ramadan lalu.

Beragam faktor melatarbelakangi ketegangan itu.

Sumber: Kontan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved