Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY
Rahmat Allah Lebih Besar Daripada Murka-Nya
Dua sikap berbeda sebagai bentuk reaksi terhadap perbuatan buruk orang lain; memaafkan atau membalas.
Oleh: Khoirun Niat, Warek I IIQ An Nur Yogyakarta
TRIBUNJOGJA.COM - Dua sikap berbeda sebagai bentuk reaksi terhadap perbuatan buruk orang lain; memaafkan atau membalas.
Memaafkan merupakan bentuk rasa kasih sayang sedangkan membalas adalah bentuk rasa keadilan. Di antara dua sikap ini, manakah yang lebih baik, atau manakah yang perlu untuk lebih diutamakan?
Islam mengajarkan bahwa kasih sayang adalah lebih baik daripada bentuk keadilan, dan memaafkan adalah lebih baik daripada membalas. Ajaran ini ternyata tidak hanya dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw., tetapi bahkan menjadi manifestasi sifat Allah, Tuhan sekalian alam.
Dalam banyak ayat Alquran disebutkan, Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang; tapi di samping itu, Allah juga Maha Penghukum dan Maha cepat siksa-Nya.
Dua sifat yang berbeda, tapi sejatinya keduanya memiliki kondisi dan obyek yang berbeda juga sehingga tidak kontradiktif. Bahkan seringkali kedua sifat ini berkumpul dalam satu ayat, semisal QS. al-An’am: 165 yang artinya: “... Sungguh Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya dan sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Senada dengan ayat di atas adalah QS. al-A’raf: 167, al-Maidah: 98 dan Ghafir: 3dengan redaksi yang bervariatif. Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa selain Maha Pengampun, Allah juga Maha Penghukum. Kemudian jika ingin mengetahui lebih dominan yang mana antara kedua sifat ini, maka memerlukan dalil yang lain.
Terdapat ayat Alquran yang menunjukkan bahwa rahmat (kasih sayang) Allah adalah lebih luas daripada siksa-Nya, yaitu QS. al-A’raf: 156 yang artinya: ... Allah berfirman: “Siksa-Ku Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, sedangkan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu”.
Ayat ini menjelaskan bahwa siksa Allah hanya bersifat khusus yaitu ditimpakan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, sedangkan kasih sayang Allah bersifat umum meliputi segala hal.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa kasih sayang-Nya lebih besar daripada siksa-Nya. Ayat ini dipertegas oleh hadis Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari-Muslim. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ketika Allah telah memutuskan takdir mahluk, Dia menuliskan dalam kitab-Nya -yaitu berada di atas 'Arsy-: sungguh, rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku”.
Hadis ini menegaskan bahwa rahmat Allah lebih besar daripada murka-Nya dengan kata lain bahwa kasih sayang-Nya lebih besar daripada siksa-Nya.
Kenyataan di alam ini membuktikan apa yang disampaikan oleh ayat dan hadis di atas. Dunia ini penuh dengan rahmat Allah. Kehidupan dapat berjalan sebagaimana mestinya juga berkat rahmat Allah. Manusia dapat hidup dengan tentram, beraktivitas dengan nyaman, makan dan minum dengan normal, semua berkat rahmat Allah.
Andai satu bagian saja diambil oleh-Nya atau dibuat tidak berfungsi oleh-Nya, maka manusia tidak bisa berbuat apa-apa sehingga tidak bisa hidup dengan normal.
Contoh kecil, misalnya, pernapasan. Manusia dapat bernapas sehingga dapat hidup karena dua unsur; adanya organ pernafasan dan adanya oksigen. Salah satu dari dua hal ini hilang atau tidak berfungsi, maka manusia tidak bisa bernafas sehingga tidak dapat hidup.
Dua unsur tersebut tidak lepas dari rahmat Allah yang andai saja Dia menghendaki kedua unsur atau salah satu darinya tidak berfungsi, maka manusia menjadi sakit atau bahkan meninggal. Ini hanya contoh kecil dari rahmat Allah dan di dunia ini penuh dengan hal-hal yang demikian.