Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY
Puasa Sebagai Paradigma Perdamaian
Bagi umat Islam, bulan Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri, karena pada bulan ini terdapat ritual wajib yaitu puasa.
Oleh: Braham Maya Baratullah MSI, Dosen IIQ An-Nur Yogyakarta
TRIBUNJOGJA.COM - Bagi umat Islam, bulan Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri, karena pada bulan ini terdapat ritual wajib yaitu puasa.
Umat Islam meyakini bahwa puasa salah satu ibadah dalam Rukun Islam yang mampu memberikan kontribusi besar selain syahadat, shalat, zakat, dan haji.
Kontribusi puasa secara nyata dirasakan oleh umat Islam, mulai dari menyehatkan “shumutashihhu,” hingga pada tingkat kondisi spiritual yang damai bagi kaum Muslim.
Bahkan dibelahan dunia mana pun umat Islam melakukan puasa dalam keadaan suka dan duka. Mereka meyakini karena dengan puasalah “kedamaian” baik secara pribadi maupun umum akan terwujud.
Menjadikan puasa sebagai paradigmaperdamaian, tentu bukan perkara mudah. Selama ini puasa kita yakini sebatas ritual menahan lapar dan dahaga. Maka perlu paradigma universal agar puasa dalam menahan lapar dan dahaga meningkat dan membuahkan kesabaran.
Jika puasa dapat membuahkan kesabaran dalam sikap dan perilaku, maka selanjutnya puasa akan mampu menciptakan perdamaian bagi diri dan orang lain.
Kesabaran adalah modal utama dalam menciptakan kedamaian.Menurut Imam Majduddin Muhammad al-Fairuzzabadi, sabar secara bahasa berarti “al-habsu” (menahan/mencegah), dan secara istilah, dia mengatakan “Sabar adalah menahan diri dari ketidaksabaran (cemas) dan ketidakpuasan, menahan lisan dari mengeluh (komplain), dan menahan (seluruh) anggota tubuh dari kekacauan.”
Sehingga puasa yang berdimensi kesabaran ini, diharapkan mampu menahan ketidaksabaran dan kekacauan sebagai modal utama dalam menciptakan perdamaian.
Seseorang yang sudah dilatih untuk berpuasa tentu mampu menahan diri dari amarah. Dengan begitu, dia akan lebih mudah mengontrol diri dan tidak mudah terjebak dalam pertikaian, serta akan mengutamakan sikap damai daripada amarahnya.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairahra., Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang kalian berpuasa, maka hendaklah ia tidak berkata buruk atau berperilaku jelek dan berteriak-teriak (gaduh). Kemudian jika ada seseorang yang memaki-maki atau menantangnya berkelahi, hendaklah ia mengatakan: ‘saya sedang puasa’!” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan sebuah paradigma perdamaian bahwa seseorang yang berpuasa seharusnya lebih mampu menahan amarahnya.
Dengan demikian, puasa sebagai paradigma perdamaian harus dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah sebulan penuh kita dilatih untuk sabar dan menahan amarah saat berpuasa, maka dampak setelah Ramadan mampu menciptakan umat yang lebih mengutamakan perdamaian. Ini sebagaimanafirman Allah swt., “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa [14]: 114).
Artinya, Islam menaruh perhatian terhadap manusia. Dan tidak ada bisikan yang lebih baik daripada bisikan untuk mengadakan “perdamaian” di antara manusia.
Maka menjadi ironis jika seseorang yang telah mampu berpuasa justru menunjukkan amarah dan ketidaksabaranya dalam sikap dan perilaku. Padahal puasa sejatinya mengajarkan sikap dan perilaku damai, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Semoga dengan kita memahami puasa sebagai paradigma perdamaian, kita mampu menampakkan ‘wajah-wajah perdamaian’sebagai ejawantah makna Lailatul Qadar, malamyang penuh kedamaian (QS.Al-Qadr [97]:5), serta mendapatkan kedamaian yang hakiki dari Allah swt. seperti doa-doa yang sering kita panjatkan,“Allahumma Anta Salam, Waminka Salam, WailaikaYa’udus Salam[Ya Allah Engkaulah Kedamaian, dan dari-Mulah kedamaian, serta kepada-Mulah kembalinya kedamaian].”Wallahu ‘alam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mutiara-braham.jpg)