Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY

Moderasi Beragama untuk Kerukunan Umat

Realita sosial itu memang plural. Tugas kita adalah bagaimana mengelola pluralitas tersebut agar tetap tercipta harmoni dan perdamaian.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Prof Dr H Abdul Mustaqim, Guru Besar Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

Oleh: Prof Dr H Abdul Mustaqim, Guru Besar Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

TRIBUNJOGJA.COM - Realita sosial itu memang plural. Tugas kita adalah bagaimana mengelola pluralitas tersebut agar tetap tercipta harmoni dan perdamaian dalam kehidupan.

Untuk itu, diperlukan upaya yang terus-menerus tanpa mengenal lelah, agar komunitas umat beragama ini mampu mewujudkan cita-cita mulia dari masing-masing agama yang dianutnya. Agama harus menjadi basis teologis untuk hidup rukun dan damai, bersikap toleran, saling asih asah dan asuh.

Jujur harus dikatakan bahwa kita ini sama-sama membawa beban sejarah konflik di masa lalu, dan masing-masing punya alasan untuk balas dendam atas sejarah kelam masa lalu.

Namun tentunya keberanian diri untuk melakukan kritik internal terhadap model keberagamaan yang cenderung ekstrem-eksklusif menjadi lebih inklusif dan moderat merupakan sebuah keniscayaan, agar agama ini dapat menjadi solusi, bukan malah menjadi bagian masalah (part of the problem).

Maka, pilihan yang tepat adalah bersikap moderat dalam beragama, untuk mewujudkan kehidupan kerukunan dan perdamaian.

Karakter dasar Islam adalah moderasi (the nature of Islam is moderation). Karena itu, mengartikulasikan Islam yang menyimpang dari nilai-nilai moderasi dapat dinilai sebagai sebuah kegagalan memahami ajaran Islam.
Itu sebabnya, cara beragama yang ideal adalah moderasi (wasathiyah). Jika paradigma ini gagal kita bangun, hal itu bisa meruntuhkan otentisitas keberagamaan kita.

Tentu menjadi keprihatinan kita bersama bahwa fenomena radikalisasi agama dan intoleransi akhir-akhir ini, baik yang bersifat wacana maupun aksi merupakan fakta sosial yang tak terbantahkan.

Dalam studi Ashour, proses radikalisasi umumnya berlangsung dari tahap intoleransi, radikalisasi ideologi, dan kemudian radikalisasi perilaku (Ashour, 2009: 5). Harus dicatat di sini bahwa radikalisme bukanlah gejala khas Islam. Ia terjadi pada agama dan kepercayaan lain, dan untuk tujuan yang beragam, dari politik hingga ekonomi.

Dengan kata lain, soft radicalism dapat berkembang menjadi hard radicalism. Konflik yang mengatasnamakan agama tampak semakin menggurita, yang berimbas pada tindakan kekerasan dan tentu saja ini sangat mencederai, bukan saja pada nilai dasar keberagamaan itu sendiri yang mendorong untuk hidup rukun, tetapi juga nilai kemanusiaan yang menuntut untuk saling mencintai.

Agama itu sebenarnya hadir ke dunia, bukan untuk kepentingan Tuhan, melainkan untuk kepentingan manusia, yakni agar tercapai kehidupan yang maslahah, baik di dunia maupun di akhirat. Hal itu antara lain diisyaratkan pada penamaan akhir surat dalam Alquran sebagai Surat al-Nas (Surat Manusia).

Di samping itu, ada sekian banyak ayat dalam Alquran yang diawali menyapa dengan panggilan yâ ayyuha al-nâs (wahai manusia). Tidak berlebihan jika Prof. Dr. Fazlur Rahman dalam bukunya Major Themes of the Qur’an menyebut bahwa Alquran sesungguhnya merupakan “respons Tuhan” buat manusia, sebagai wujud sifat Rahman-Rahim-Nya.

Itu diperkuat dengan deklarasi Tuhan sendiri di awal surat al-Fatihah, Bimillah Rahman al-Rahim. Seolah Tuhan hendak mengabarkan, wahai manusia tebarkan sifat kasih sayang kepada semua makhluk-Ku, karena Aku adalah Tuhan yang Pengasih dan Penyayang.

Untuk itu, mengembalikan sikap moderasi beragama dalam konteks masyarakat yang multiagama dan multikultur menjadi sebuah keniscayaan. Sebab hanya dengan sikap moderasi beragam, kita akan mampu membangun kohesi sosial, demi menggapai kemaslahatan bersama.

Tidak mungkin tercapai kemaslahatan, manakala dalam kehidupan beragama isinya hanya konflik dan kekerasan. Memang, ketegangan dan konflik dalam kehidupan beragama, sering kali tidak dapat dihindari, karena berbagai faktor, baik sosial, kultur, ekonomi, politik maupun teologi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved