Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY
Meneguhkan Pendidikan Karakter Bangsa
Tak bisa dipungkiri bahwa Ramadan adalah medium paling strategis memupuk spirit edukatif, sehingga lahir generasi unggul.
Oleh: Siti Muyassarotul Hafidzoh, Litbang PW Fatayat NU DIY, Kepala Madrasah Diniyah Masjid Az Zahrotun
TRIBUNJOGJA.COM - Bulan Ramadan merupakan bulan pendidikan. Tak bisa dipungkiri bahwa Ramadan adalah medium paling strategis memupuk spirit edukatif, sehingga lahir generasi unggul yang didambakan bangsa.
Setiap ritual dalam bulan Ramadan bukan saja mendidik hati, tetapi juga akal, emosi dan jasmani. Seluruh potensi dan kecerdasan manusia bisa terasah dan melejit dengan baik kalau bisa menjadikan Ramadan sebagai bulan pendidikan (syahr al-tarbiyah).
Sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi, jasmani dan ruhani diantarkan dalam gedung pendidikan penuh nilai dengan suasana gembira, bahagia, dan bangga.
Menurut Prof Abdul Madjid (2011) puasa yang diwajibkan dalam bulan Ramadan bila dilakukan sesuai dengan syariat-Nya akan melahirkan pribadi yang unggul dalam berbagai segi. Sebagaimana diungkapkan Nabi Muhammad saw., keunggulan itu merupakan unsur terpenting dari tujuan puasa, yaitu takwa. Karena itu, menarik ketika kita hubungkan pernyataan di atas dengan pangkal firman Allah swt.,“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 184).
Standar keunggulan dalam puasa tentunya mengacu kepada puasa Nabi Muhammad saw. Karena dalam diri Nabi Muhammad saw. terpantul nilai puasa sebagai media pembelajaran, mengaca diri, mengevaluasi kinerja, merancang agenda untuk kehidupan mendatang atas dasar iman dan takwa kepada-Nya.
Puasa akan memaksimalkan daya nalar, mempertajam emosi keagamaan, dan menanamkan rasa ingin tahu apa rahasia yang terkandung di dalam kehidupan. Awal puasa berarti menjalani tahun ajaran baru, saat syawal nanti akan meraih kemenangan, diwisuda dengan gelar muttaqin (sosok pembaharu yang progresif, kritis, kreatif dan inovatif).
Sementara itu, Dr. Raghib As-Sirjani dalam kitabnya ‘Ramadan wa Bina’ul Ummah’ menjelaskan bahwa ada tujuh spirit edukasi yang tertancap dalam bulan suci Ramadan. Pertama, Ramadan mendidik kaum muslimin untuk memenuhi perintah-perintah Allah swt. secara totalitas.
Totalitas ini terwujud dengan melaksanakan ibadah baik yang wajib dan sunah. Semua bisa dilaksanakan mulai bangun tidur sampai mau tidur lagi. Pahalanya juga dilipatgandakan. Inilah wujud totalitas yang dididik oleh Allah.
Kedua, Ramadan mendidik kaum muslimin agar menundukkan syahwatnya. Ketika Ramadan kaum muslim dilarang melakukan hal-hal yang pada hakikatnya halal bila dilakukan pada siang hari di selain Ramadan. Seperti makan, minum, dan berhubungan suami-istri. Karenanya, seseorang yang telah mendapatkan pendidikan Ramadan, maka ia akan lebih mampu untuk menahan diri dari makanan dan minuman yang tidak jelas asal-usulnya, serta mampu untuk menjaga diri dari pergaulan lawan jenis yang diharamkan. Puasa, pada hakikatnya adalah memutus dominasi syahwat. Dengan berpuasa syahwat dapat dipersempit geraknya.
Ketiga, Ramadan mendidik kaum muslimin agar mengendalikan sifat terburu nafsu serta memiliki kesanggupan untuk menahan amarah. Rasulullah saw. bersabda, Allah swt.berfirman, “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Maka, apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, bersuara tidak pantas, dan tidak mau tahu. Lantas jika ada seseorang yang menghinanya atau memeranginya (mengajaknya berkelahi), maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari Muslim).
Keempat, Ramadan mendidik kaum muslim untuk senang berinfak. Ramadan mampu membentuk jiwa orang yang berpuasa menjadi dermawan dengan memberikan kebaikan kepada orang lain.
Kelima, Ramadan mendidik kaum muslim agar memiliki rasa persatuan, persaudaraan, dan kasih sayang. Segenap kaum muslim di seluruh penjuru dunia akan berpuasa pada hari yang sama dan berbuka pada hari yang sama pula. Mereka akan mulai berpuasa pada saat yang sama, dan tidak membedakan antara yang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat biasa. Ada jiwa kebersamaan yang memasuki hati kaum muslim pada bulan Ramadan.
Keenam, Ramadan mendidik kaum muslim merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain. Kaum muslim merasakan penderitaan lapar dan dahaga untuk waktu tertentu pada siang Ramadan. Ia merasa lapar dan menderita seperti yang sering dirasakan fakir miskin atau sebagaimana dikatakan Ibnu al-Qayyim, “Puasa dapat mengingatkan bagaimana rasanya perut keroncongan dan dahaga yang membakar dan sering dirasakan para fakir miskin.” Sehingga, di saat ia melihat orang lain serba kekurangan, maka tersentuhlah hatinya untuk berbagi kepada mereka.
Ketujuh, Ramadan mendidik ketakwaan dalam hati kaum muslim. Sebab, tujuan yang ingin dicapai dari ibadah puasa adalah membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa, yakni pribadi yang mampu menghadirkan Allah swt.dalam setiap aktivitas dan perilakunya. Dengan kehadiran Allah swt.dalam setiap aktivitas dan perilakunya, maka orang tersebut akan senantiasa terbimbing dari perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya.
Visi edukasi bulan Ramadan ini akan mengantarkan manusia menuju fitrahnya. Fitrah inilah faktor dominan agar kita bisa menjadi manusia pembelajar. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/siti-mutiara-ok.jpg)