Menikmati Keindahan Alam dan Napak Tilas Sejarah di Desa Wisata Kelor Turi Sleman

Bangunan Joglo di Desa Wisata Kelor masih terawat dengan mempertahankan bentuk aslinya. Belum mengalami perubahan berarti.

Tayang:
Editor: Muhammad Fatoni
dok.istimewa
Desa wisata Kelor, Sleman 

Selain outbound, pengunjung juga bisa belajar menanam, mencangkok, menyerbuk, menjarang hingga memetik buah salak langsung dari pohon.

Edukasi ini bekerjasama dengan Kelompok Tani Organik Mekarsari

Tak puas sampai di sana, pengelola lalu menyewa tanah kas desa demi pengembangan desa wisata.

Berbekal pendampingan dari Dinas Pariwisata Sleman dan Daerah Istimewa Yogyakarta, di atas tanah kas desa tersebut saat ini sudah dibangun sejumlah wahana edukasi.

Mulai dari kolam tangkap ikan, kolam titian, flying fox, halang rintang hingga beragam permainan tradisional.

"Kita memiliki 30 permainan edukasi tradisional. Dari kelereng, tarik tambang hingga bakiak semuanya ada," ujar dia.

Di samping itu, ada juga edukasi membuat telor asin, membuat tempe, membuat teh kelor, bakso goreng kelor, membatik dan membuat jenang salak.

Fasilitas yang ada di desa wisata Kelor terbilang cukup lengkap.

Sudah ada kamar mandi ( 27 pintu). Kemudian, pendopo (4 unit) yang masing-masing mampu menampung antara 70 - 100 orang. Homestay ( 33 rumah).

Sementara untuk tempat ibadah, ada 1 masjid yang digunakan juga untuk ibadah segenap warga kampung.

Purnomo mengatakan, kampungnya dinamakan Kelor, konon pada zaman dahulu, banyak ditumbuhi pohon kelor atau tanaman dengan nama latin Moringa oleifera.

Diceritakan oleh sesepuh, kata dia, disebelah utara kampung dahulu terdapat sebatang pohon kelor yang cukup besar.

Suatu hari, Merapi erupsi.  

"Pohon kelor itu di kisahkan mampu menyelamatkan dusun dari bahaya erupsi sehingga warga aman," kata dia.

Paket Petan (tanpa nginep)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved