Wawancara Eksklusif
Wawancara Eksklusif: Cara Polres Bantul Mengatasi Petasan Jelang Idulfitri
Penjual petasan pun marak di pinggir jalan. Selain membeli dari penjual petasan, anak-anak atau remaja bahkan membuat sendiri petasan tersebut.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
Meskipun ada undang-undang yang mengatur, kami mengutamakan pencegahannya dulu. Pertama kami lakukan pembinaan kepada masyarakat terkait bahaya petasan.
Kami memiliki Bhabinkamtibmas yang masuk ke desa-desa untuk melakukan sosialiasasi.
Kemudian kami sosialisasikan melalui media sosial juga. Sehingga masyarakat paham akan bahaya petasan, dan paham kalau petasan itu dilarang.
Kami juga rutin melakukan patroli, terutama di tempat-tempat yang biasanya jadi lokasi menyalakan petasan.
Kami juga memantau peredaran petasan dengan mencari penjual bahan baku petasan.
Belum lama ini kami amankan bahan baku petasan 3 kilogram di Kasihan.
Tetapi ternyata penjual bahan baku bukan berada di Bantul, tetapi di Sleman. Kami akan berkoordinasi dengan Polres Sleman.
Kemudian kami juga melakukan patroli di dunia maya, karena saat ini bahan baku petasan juga dijual secara daring.
Titik mana saja yang biasanya dimanfaatkan untuk menyalakan petasan?
Yang paling banyak adalah JJLS (jalan jalur lingkar selatan). Makanya untuk antisipasi kami melakukan penyekatan di pintu msuk JJLS. Sehingga tidak dimanfaatkan untuk menyalakan petasan.
Biasanya juga di daerah dekat perbukitan, daerah Kasihan. Meskipun jauh, tetapi kan suaranya tetap mengganggu masyarakat.
Apakah sudah ada yang diamankan oleh Polres Bantul karena petasan?
Sudah ada yang kami amankan, ada sekitar 7 hingga 10 orang. Kebanyakan mereka adalah pembuat, mereka beli bahan baku dan merakit sendiri.
Umumnya yang terlibat adalah remaja, maka kami lakukan pembinaan. Kami minta mereka ke kantor, memanggil orangtua, dan membuat surat pernyataan.
Sejauh ini kami masih mengedepankan pembinaan, untuk penindakan kami belum lakukan. Kalau memang sudah keterlaluan, bukan tidak mungkin penindakan.