Bisnis
Bantu Pariwisata di Masa Pandemi, Erix Soekamti Bentuk Komunitas Gelangprojo
Membantu pariwisata di kawasan Magelang, Kulon Progo, dan Purworejo, Musikus Erix Soekamti membentuk sebuah komunitas bernama Gelangprojo.
Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Musikus Erix Soekamti memantapkan diri untuk membantu pariwisata di kawasan Magelang, Kulon Progo, dan Purworejo.
Ia pun membentuk sebuah komunitas bernama Gelangprojo.
Erix menyampaikan hal tersebut dalam talkshow Strategi Digitalisasi Pariwisata yang digelar oleh Bank BPD DIY, Minggu (26/4/2021).
Inisiasi Erix ini baginya merupakan sebuah hikmah di kala pandemi.
Dirinya yang dikenal sebagai musikus harus beradaptasi dengan kondisi untuk terjun langsung menjadi pelaku pariwisata.
"Kalau dulu cuma penikmat wisata, sekarang jadi pelaku langsung. Jadi pas pandemi susah keluar kota jalan-jalan. Lalu nemu sebuah tempat yang membuat jatuh cinta," kata Erix.
Baca juga: Strategi Digitalisasi Pariwisata Bantu Destinasi Tebing Breksi Bangkit dari Terpaan Pandemi
Akhirnya ia memantapkan diri untuk membangun tempat itu bersama masyarakat Nglinggo.
Namun, karena lokasinya persis perbatasan tiga wilayah yakni Magelang Ngargoretno, Benowo Purworejo, dan dan Nglinggo Kulon Progo, dibuatlah komunitas Gelangprojo.
Dari situlah ia bersama komunitasnya bernisiatif mengumpulkan banyak sumber daya manusia.
"Kami inisiatif mengumpulkan akamsi (anak kampung sini). Atau orang-orang yang sevisi dengan kami, yang mandiri mau membangun rumahnya sendiri," ungkapnya.
"Kami belajar bagaimana caranya bekerja sama dengan banyak pihak. Hanya saja di sana tempatnya jauh, internet juga kurang bagus, jadi keterbatasan itu membuat akamsi bergerak secara mandiri," sambungnya.
Erix bersama Gelangprojo terus berlajan memberdayakan lingkungan serta sumber daya manusianya.
Dalam waktu kurang lebih setahun pandemi, pihaknya bisa membangun sekitar tiga wisata sekaligus dalam satu area Gelangprojo.
Baca juga: DPRD Kota Yogyakarta Menyapa, Legislatif Merespon Keluh Kesah Pelaku Pariwisata
Berbicara kendala, Erix mengaku ada sedikit kendala di pengolahan lahan.
"Seperti, kami harus berpikir keras untuk membuat lahan parkir. Lainnya tidak ada kendala. Karena gerakan warga jadi tidak ada kendala," paparnya.
Dirinya pun berpesan kepada para masyarakat dan pelaku wisata, untuk tidak lupa lebih mengenali rumah sendiri.
Karena dengan mengenali potensi rumah sendiri bisa memberdayakan apa yang telah ada.
"Beda dengan memanfaatkan, di mana kita hanya mengeksploitasi saja. Kalau memberdayakan, kita benar-benar membuat tempat itu dan manusianya berdaya," ujarnya.
Menurut dia, tak perlu melihat tempat lain.
"Sebab, selama masih sibuk melihat rumput tetangga, itu malah membuat kita kehilangan jati diri, menjadi obsesi," ungkapnya.
Baca juga: Siasati Larangan Mudik, Industri Pariwisata di DIY Harus Kreatif untuk Gaet Wisatawan Lokal
Empat Strategi
Disinggung soal digital marketing pariwisata, dirinya mengaku belum banyak melakukan hal di ranah tersebut.
Sebab masih dalam proses adaptasi menjadi pelaku wisata.
"Saya melakukan aktivitas digital sudah dari dulu zaman musisi. Jadi itu bukan hal baru lagi. Cuma sekarang menjadi lebih adaptif ke beda bidang. Di wisata ini saya juga belajar menggunakan media sosial untuk mempromosikan wisata," kata dia.
Erix berujar, ke depan digitalisasi pariwisata nantinya juga akan dilakukan secara mandiri.
Pihaknya pun menggandeng DOES University untuk kebutuhan tersebut.
"Kebetulan kami juga berkolaborasi dengan DOES University, jadi hampir semua tempat-tempat yang kita bangun itu ada kontribusi langsung untuk share profit membangun kampus," katanya.
"Jadi DOES University wajib untuk membantu kami. Di DOES University ada programmer juga untuk membuat aplikasi," sambungnya.
Baca juga: Sudah Prediksi Larangan Mudik Lebaran, Dinas Pariwisata Gunungkidul Andalkan Wisatawan Lokal
Ia kembali menambahkan soal digital marketing.
"Apa yang saya tahu selama saya jadi musisi dan sekarang menjadi pelaku wisata, marketing itu syaratnya cuma empat," tuturnya.
Pertama yakni immpression first atau kesan pertama.
Menurut dia, jika hanya mengandalkan cerita baik saja, belum tentu dibagikan orang-orang.
"Itu belum tentu shareable. Kadang perlu konflik dan lainnya hanya untuk membuat impresi," ujarnya.
Kedua yakni nformasi. Setelah orang melihat, informasi yang baik harus bisa harus bisa diberikan.
Ketiga yakni melibatkan dan mengajak orang-orang untuk datang.
"Terakhir, diingatkan kembali, itu akan dilakukan terus," pungkasnya.( Tribunjogja.com )