Breaking News:

Gelar Simulasi Pembelajaran Tatap Muka, SDN Lempuyangwangi Buka 7 Ruang Kelas

SDN Lempuyangwangi menjadi salah satu dari 5 SD dan 5 SMP di Kota Yogyakarta yang ditunjuk menjadi sekolah percontohan pembelajaran tatap muka (PTM).

dok.istimewa
ilustrasi berita pendidikan 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - SDN Lempuyangwangi menjadi salah satu dari 5 SD dan 5 SMP di Kota Yogyakarta yang ditunjuk menjadi sekolah percontohan pembelajaran tatap muka (PTM).

Kepala SDN Lempuyangwangi, Esti Kartini, mengatakan simulasi PTM terbatas di sekolahnya akan dilaksanakan mulai besok, Rabu (28/4/2021) hingga Jumat (7/5/2021).

Ia merincikan, siswa yang akan dilibatkan dalam simulasi PTM pada 28 April hingga 3 Mei 2021 adalah siswa kelas V yang berjumlah 84 orang. Sedangkan, pada 4-7 Mei 2021 adalah siswa kelas IV yang berjumlah 86 orang.

Baca juga: Pemkab Kulon Progo Diharapkan Merespon Cepat Hadirnya Borobudur Highland

Adapun setiap harinya siswa dibagi ke dalam 7 ruang kelas yang masing-masing berisi maksimal 12-13 orang.

Dikarenakan banyaknya kelas saat simulasi PTM terbatas, sementara guru kelas IV dan V tidak sebanyak kelas yang ada, Esti mengungkapkan pihaknya memperbantukan guru kelas di bawahnya untuk mengajar kelas IV dan V.

"Ketika pembelajaran di kelas atas kami banyak merekrut teman-teman guru kelas di bawahnya. Jadi tetap tersedia guru kelas bawah untuk mengajar di kelas V dan IV. Namun, RPP dan materi sudah disiapkan guru kelas dan disamakan persepsinya," tutur Esti kepada Tribunjogja.com, Selasa (27/4/2021).

"Yang disuruh membantu juga mereka yang biasa mengajar di kelas atas, misalnya pernah memberi tambahan pelajaran. Tenaganya sudah siap, sebelumnya mereka harus mengikuti briefing dulu," sambungnya.

Adapun mata pelajaran yang akan diberikan selama simulasi PTM terbatas di antaranya bahasa Indonesia, IPA, matematika, dan pendidikan agama dan budi pekerti.

Esti menambahkan, pada PTM ini juga akan dilakukan penguatan pendidikan karakter siswa. "Anak sudah lama sekali di rumah, sudah setahun lebih. Itu salah satu usaha kami agar mereka belajar di sekolah dengan menyenangkan," imbuhnya.

Esti menjelaskan, contoh dari pendidikan karakter itu nantinya adalah kegiatan yang biasa mereka lakukan sehari-hari.

Baca juga: Kembali Digulirkan Kementerian PUPR, Program Kotaku di Kota Yogyakarta Terapkan Sistem Padat Karya

Semisal, mencium tangan orang tua setelah mengantar di gerbang sekolah, bertemu guru piket lalu menangkupkan tangan atau menundukkan kepala, melakukan piket kelas dengan membersihkan ruangan sebagai wujud karakter gotong royong.

Lalu melakukan diskusi tetapi tidak mengelompok sebagai penanaman karakter kerja sama, juga karakter kemandirian dan percaya dengan cara siswa diminta maju mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas.

"Itu semua yang tidak bisa didapatkan ketika pembelajaran daring," ucap Esti. (uti) 

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved