Warga Kauman Bantul Lestarikan Tradisi Takjil Bubur dan Jam Matahari
Tradisi takjil bubur sayur lodeh sempat dihentikan pada tahun 2020 lalu karena pandemi COVID-19. Namun saat ini tradisi bubur takjil kembali dilaksan
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
"Biasanya bisa mencapai 500 porsi lebih. Kalau saat ini kan harus menerapkan protokol kesehatan, jadi harus ada jaga jarak. Sebelum membagikan takjil ada pengajian dulu untuk anak-anak dan remaja, palingan ditambah orangtua yang jadi jemaah sini. Rata-rata sehari hanya 100 porsi," ujarnya.
Selain bubur takjil, peninggalan Panembahan Bodho lainnya adalah jam matahari untuk menentukan waktu shalat.
Jam matahari tersebut berbentuk setengah lingkaran. Di tengah jam tersebut ada sebuah paku yang menancap. Bayangan paku tersebut yang menjadi acuan, sebab bayangan paku akan akan menunjukkan waktu shalat.
Baca juga: Resep Sambal Goreng Hati Kentang, Makanan yang Tahan Lama untuk Sahur dan Buka Puasa
"Saat ini masih digunakan, karena kalau mengacu pada televisi atau radio bisa berubah-ubah. Jam ini hanya menunjukkan waktu salat saja, berbeda sedikit dengan jam biasanya. Misalnya jam 12 pas titik matahari, tetapi kalau jam biasanya bisa jam 11.40an. Jadi istiwak itu adalah waktu ibadah,"bebernya.
"Kalau bayangannya sudah tidak ada berarti sudah waktunya maghrib. Tetapi kalau nanti bayangan nanti muncul lagi, artinya setelah subuh. Karena waktu salat subuh adalah sebelum matahari terbit,"sambungnya.
Ia berharap warga Kauman bisa terus melestarikan tradisi takjil bubur dan terus merawat jam matahari seperi saat ini. (maw)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/memasak-takjil-bubur-di-masjid-sabiilurrosyaad-peninggalan-panembahan-bodho.jpg)