Nasional

Eks Tokoh Jamaah Islamiyah Nasir Abbas Tegaskan Aksi Terorisme Itu Nyata

Mantan Ketua Mantiqi II kelompok Al Jamaah Al Islamiyah (JI), Nasir Abbas, mengingatkan aksi terorisme yang menukil dalil agama itu riil, nyata.

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Nasir Abbas 

“Jadi siapa saja yang mendukung ISIS, dianggap bagian dari mereka. Walau beda kelompok, mau JAD, MIT, FPI, kalau meeka setuju dengan ISIS, ya mereka saling nyambung,” jelasnya.

JAD dan MIT punya hubungan, saling dukung. Itulah jawaban mengapa pula MIT bisa eksis sampai hari ini, karena ada support logistik, bantu jalur dan lain-lain,” kata kakak ipar almarhum Ali Ghufron, pemimpin pengeboman di Bali 2002.

Narasi dan aksi kekerasan di Sulawesi ini menurut Nasir Abbas juga terus dikampanyekan kelompok MIT (Mujahidin Indonesia Timur).

“Karena alasan histori konflik Poso, maka sampai hari ini masih ada pemikiran ada ketidakadilan, belum ada keseimbangan menyangkut korban. Segelintir orang ini terus mengungkit-ungkit, dan menuduh pemerintah tidak juga menciptakan keadilan,” jelas Nasir Abbas.

Ditambah lagi, kelompok-kelompok radikal ini bermaksud melaksanakan seruan pemimpin ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi.

Al Baghdadi pernah menyerukan anggota ISIS dan setiap orang muslim melakukan operasi di manapun berada membunuh musuh-musuh mereka.

“Pesan Abu Bakar inilah yang jadi beban bagi mereka untuk dilaksanakan. Ditambah mereka meyakini pemerintah adalah musuh, mereka sedang berperang, mereka melakukan fardu ain, jihad, makanya harus angkat senjata, harus operasi,” katanya.

Lalu Manfaatnya apa? Menurut penjelasan Nasir Abbas yang pernah menulis buku tentang Jamaah Islamiyah, para pelaku bom ingin mendapatkan pahala.

Mereka ingin dapatkan janji surga sesuai keyakinan mereka, Mereka inigin bagikan semangat itu ke teman-teman sekelompoknya.

“Ingat, Minggu lalu itu nisfu syaban, jadi pahalanya dianggap besar melakukan jihad di hari itu. Ini mirip Noordin dan Azhari yang kerap mengincar aksi di hari Ramadan. Karena itu keyakinan,” paparnya.

Menurut peneliti forensik psikologi DSPAR, Reno Fitria,pelibatan perempuan dalam aksi-aksi teror ini ada kaita dengan soal keyakinan dan juga latar belakang masa lalu mereka.

“Saya sempat tanya ke mereka apa yang membawa mereka beraksi berpasangan? Isu psikologisnya, terutama perempuan, ada latar belakang mereka mencari figur laki-laki karena pengaruh kehilangan sosok ayah di masa kecilnya,” ujar Reno.

Baca juga: Sederet Fakta Terbaru Ledakan Bom di Gereja Katedral Makassar, Temuan Polisi hingga Identitas Pelaku

“Sehingga dia cari sosok laki-laki ideal di matanya. Agamanya cukup, punya sikap tegas, lalu dia ditarik mencari pasangan di wilayah kelompok mereka,” imbuhnya.

Kedua,menurut Reno, perempuan mudah ditarik karena ada kawan terdekat sudah bergabung lebih dulu ke kelompok itu.

Lalu sengaja cari pasangan di wilayah organisasinya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved