Produktivitas Padi di Bantul Surplus, DPRD Bantul Sebut Tak Perlu Impor Beras

Produktivitas padi di Kabupaten Bantul tinggi. Buktinya dalam satu tahun dapat menghasilkan sekitar 198.000 ton gabah. 

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
photodune.net
Ilustrasi Beras 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Produktivitas padi di Kabupaten Bantul tinggi. Buktinya dalam satu tahun dapat menghasilkan sekitar 198.000 ton gabah. 

Kabid Tanaman Pangan, Holtikultura, Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Kabupaten Bantul, Imawan Ekohandrianto mengatakan jika gabah tersebut dikonversikan dengan beras, maka hasilnya adalah sekitar 98.000 ton beras

Hasil panen padi dalam setahun, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan beras di Kabupaten Bantul.

Baca juga: Tungku Belum Dimatikan, Dapur Rumah Milik Warga Nanggulan Kulon Progo Terbakar

"Kalau dikonversikan jadi beras ada sekitar 98.000 ton. Sementara konsumsi beras per tahun sekitar 70.000 ton per tahun. Jadi masih surplus," katanya saat dihubungi, Kamis (25/03/2021).

Selain surplus dari segi kuantitas, kualitas beras produksi Bantul juga dapat bersaing. Sebab sebagian beras produksi Bantul telah mendapat sertifikat PD (produksi dalam negeri). 

Dengan demikian beras produksi Bantul sudah terjamin kualitasnya. Mulai dari beras pecah, warna, hingga bau sudah melalui proses pengujian. 

"Jadi baik secara kuantitas maupun kualitas beras Bantul bisa bersaing. Tinggal bermitra saja, supaya beras ini bisa dikonsumsi dan diterima oleh masyarakat,"sambungnya.

Dengan besarnya surplus di Kabupaten Bantul, ia menyebut akan ada dampak pada petani jika pemerintah mengimpor beras

"Tentu agak berpengaruh, karena menambah suplai di pasar. Sehingga jika suplai bertambah, sedangkan permintaan tetap, nanti (harga) barang atau berasnya menurun,"terangnya. 

Baca juga: Empat Siswi SMK LP Leonardo Klaten Bikin Robot Pramusaji

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Bantul, Hanung Raharjo. Jika harga beras murah, terutama di kalangan petani, maka petani akan kesulitan dalam mempersiapkan panen berikutnya.

"Apalagi jika harga pupuk mahal. Tentu dengan impor beras ini akan sangat merugikan petani,"ujarnya. 

Menurut dia, Kabupaten Bantul tidak perlu impor beras. Sebab produksi padi di Kabupaten Bantul bisa mencukupi kebutuhan padi

"Justru yang harus diperhatikan adalah agar produktivitas padi tetap terjaga, dan jangan sampai ada petani yang gagal panen. Apalagi beras di Bantul sudah terjamin kualitasnya," tambahnya. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved