Antisipasi Kekurangan, Disperindag Gunungkidul Akan 'Impor' Pasokan Cabai Dari Luar

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul pun memikirkan kelangkaan stok yang berpotensi terjadi, terutama jelang Ramadhan.

Tayang:
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Alexander Ermando
Persediaan cabai rawit merah di lapak salah satu pedagang Pasar Argosari Wonosari, Gunungkidul. 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Harga cabai rawit merah hingga kini masih melambung tinggi.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul pun memikirkan kelangkaan stok yang berpotensi terjadi, terutama jelang Ramadhan.

Kepala Disperindag Gunungkidul Johan Eko Sudarto mengungkapkan pihaknya akan memasok persediaan cabai dari luar daerah. Khususnya daerah penghasil.

Baca juga: Pastikan Stok Bahan Pokok Aman Jelang Ramadhan, Bupati Gunungkidul Kunjungi Pasar Argosari

"Akan kami pasok dari Kulonprogo dan Sleman untuk mengantisipasi kekurangan," kata Johan di Pasar Argosari Wonosari, Rabu (24/03/2021).

Selain cabai, Disperindag Gunungkidul juga berinisiatif 'mengimpor' sayur-mayur dari Boyolali dan Tawangmangu. Hal itu dilakukan demi menjaga ketersediaan pangan daerah.

Meski begitu, Johan menyebut hasil pertanian Gunungkidul masih mampu untuk memenuhi kebutuhan sayur dan cabai. Namun prosentasenya sekitar 50 persen dari total kebutuhan.

"Hanya saja untuk cabai ini kan tergantung musim dan tidak tahan lama, jadi lebih sensitif terhadap harga," jelasnya.

Berdasarkan pantauan yang dilakukan, Johan menyebut harga cabai rawit merah masih di kisaran Rp 120 ribu per kilogram. Kemarin harganya sempat turun di level Rp 115 ribu.

Winarti, pedagang di Pasar Argosari Wonosari juga mengungkapkan hal serupa.

Menurutnya, harga cabai rawit merah terus menunjukkan fluktuasi meski stabil tinggi.

"Kemarin itu sekitar Rp 110 ribu, hari ini naik lagi jadi Rp 120 ribu sekilo," ungkapnya.

Baca juga: Jelang PSS Sleman Vs Persela Lamongan, Dejan Optimistis Timnya Bangkit

Persediaan secara umum pun masih aman. Hanya saja Winarti menyebut kuantitasnya lebih sedikit dibanding biasanya, baik dari pemasok ataupun yang ia jual.

Selain karena hasil panen sedikit, daya beli masyarakat saat ini juga belum pulih karena pandemi.

Itu sebabnya ia memilih untuk mengurangi persediaan cabai rawit yang dijual.

"Sekarang ini saya cuma nyetok sekilo per hari, itu pun tidak habis terjual," tutur Winarti. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved