Harga Cabai di Kota Yogyakarta Kian 'Pedas', Sentuh Rp 120 Ribu per Kg, Imbas Kekecewaan Petani
"Sebelumnya di Beringharjo tidak pernah mencapai Rp 120 ribu, berkisar antara Rp 95 ribu, atau Rp 100 ribu. Tetapi, hari ini sudah tembus Rp 120 ribu
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Harga komoditi cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Kota Yogyakarta kembali melejit.
Benar saja, pada Senin (15/3/2021), harganya mengalami lonjakan tinggi hingga mencapai Rp 120 ribu per kilogram.
Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Riswanti tak menampik, ketersediaan cabai di pasaran saat ini gagal memenuhi kebutuhan, sehingga harga melonjak.
Baca juga: UPDATE Covid-19 Kulon Progo: 4 dari 38 Orang dari Klaster Bojong Selesai Jalani Isolasi
"Berangkatnya dari kekecewaaan petani periode lampau, ya, karena harganya waktu itu turun sekali. Jadi, banyak petani yang tidak mau lagi tanam cabai. Makanya, periode panen sekarang hasilnya sedikit sekali itu," ungkapnya.
Berdasarkan hasil pantauannya di delapan pasar tradisional di Kota Yogyakarta, harga cabai rawit per kilogramnya saat ini, sudah menyentuh Rp120 ribu.
Bahkan, tambahnya, di toko modern, cabai rawit dibanderol Rp 150 ribu.
"Sebelumnya di Beringharjo tidak pernah mencapai Rp 120 ribu, berkisar antara Rp 95 ribu, atau Rp 100 ribu. Tetapi, hari ini sudah tembus Rp 120 ribu per kilogram," ujarnya.
"Sebenarnya, di pasar barangnya ada, bukan berarti terus langka, tidak. Hanya saja, memang tidak semelimpah kalau seperti musim panen sebelumnya," lanjut Riswanti.
Namun, ia pun tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi polemik mahalnya harga cabai tersebut. Pasalnya, menurut penuturan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY, cabai tak masuk dalam kategori sembilan bahan pokok.
"Karena bukan sembako, sehingga tidak bisa kita lakukan operasi pasar khusus cabai rawit. Ya, kalau kemahalan harga yang signifikan itu terkait beras, telur, atau daging, baru kita bisa (melangsungkan operasi pasar)," terangnya.
Jumirah, satu di antara pedagang cabai Pasar Beringharjo pun mengeluhkan sepinya pembeli sejak harga cabai rawit melonjak di angka Rp 120 per kilogram.
Karena itu, dirinya sekarang tidak berani menyimpan banyak stok.
Baca juga: Resmi Jabat Kepala Kejari, Ari Bintang: Saya Lahir dan Keluarga Asal Klaten
"Rata-rata yang datang cuma beli 1 ons, atau maksimal, ya seperempat (kilogram). Harganya naik, penjualannya juga otomatis jadi semakin sulit sekarang," keluhnya.
Selama ini, ia mengaku mendapat pasokan cabai rawit dari daerah Magelang, Temanggung dan Boyolali. Menurutnya, semua memasang harga tinggi, setidaknya dalam kisaran tiga hari terakhir, atau sejak Sabtu (13/3/2021) lalu.
"Kemarin sebenarnya juga sempat naik, tapi tidak semahal yang sekarang. Jadi, ini yang paling mahal. Sebelumnya itu Rp60 ribu, Rp70 ribu per kilogram," ujarnya. (aka)