Awal Pekan, Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12 Persen
Nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS pada awal pekan ini melemah 18 poin atau 0,12 persen
TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS pada awal pekan ini melemah 18 poin atau 0,12 persen
Melansir data Bloomberg, rupiah pada pukul 09.08 WIB berada pada level Rp 14.403 per dollar AS.
Pada penutupan sebelumnya, rupiah ditutup Rp 14.385 per dollar AS.
Lukman Leong Analis Asia Valbury Futures mengatakan, tren rupiah masih melemah meskipun di akhir pekan berhasil di tutup menguat di level Rp 14.385 per dollar AS.
Menurut dia, pelemahan rupiah bisa terjadi karena obligasi AS yang terus naik.
“Saya kira rupiah akan tertekan lagi ya. Ini terjadi dari ekspektasi pasar mengenai perekonomian yang akan segera pulih. Selain itu, pengesahan stimulus AS juga menyebabkan obligasi di AS kembali naik terus dan dollar AS akan menguat,” kala Lukman.
Baca juga: UPDATE Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar di Beberapa Bank untuk Hari Ini Jumat 12 Maret 2021
Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini berada di zona merah pada awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Melansir data RTI, pukul 09.13 WIB, IHSG berada pada level 6.344,57 atau turun 13,6 poin (0,21 persen) dibanding penutupan sebelumnya pada level 6.358,2.
Sebanyak 193 saham melaju di zona hijau dan 148 saham di zona merah. Sedangkan 202 saham lainnya stagnan. Adapun nilai transaksi hingga saat ini mencapai Rp 1,37 triliun dengan volume 2,15 miliar saham.
Bursa Asia pagi ini mayoritas hijau, dengan kenaikan indeks Hang Seng Hong Kong 1,26 persen, indeks Strait Times Singapura 0,6 persen, dan Nikkei 0,31 persen. Sementara itu, indeks Shanghai Komposit melemah 0,05 persen.
Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyebutkan, IHSG berpotensi konsolidasi cenderung tertekan jika Yield Obligasi Pemerintah AS kembali naik di pekan ini.
Kenaikan Yield berpeluang terjadi pasca paket stimulus AS sebesar 1,9 triliun dollar AS menjadi Undang-Undang.
Meskipun paket ini menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan di awal pekan, stimulus juga berpotensi mendorong Yield obligasi permerintah AS bergerak naik. Ekonomi AS juga diperkirakan akan tumbuh lebih dari 5 persen dari perkiraan sebelumnya 4 persen.
“IHSG berpeluang konsolidasi melemah karena potensi kenaikan yield obligasi USA yang menjadi sentimen negatif dan mempengaruhi pasar,” kata Hans dalam rekomendasinya.
Pemulihan ekonomi yang cepat berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dan pada akhirnya menaikan suku bunga. Selain itu juga berpotensi menaikan minat pelaku pasar akan aset berisiko di AS dan menyebabkan dollar AS menguat.