Loan to Deposit Ratio (LDR) Perbankan DIY Turun Selama Pandemi, Banyak Nasabah Menahan Uang
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan penurunan Loan to Deposit Ratio (LDR) di perbankan
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan penurunan Loan to Deposit Ratio (LDR) di perbankan pada tahub 2020 sebesar 61,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 65,65 persen.
Kepala OJK Parjiman mengatakan, keadaan pandemi membuat masyarakat lebih banyak memilih menahan uangnya dibadingkan untuk membelanjakannya.
"Ini cukup uniknya, selama pandemi likudititas perbankan di DIY malahan tetap terjaga. Karena, nasabah memilih untuk menabung daripada berbelanja," jelasnya kepada Tribun Jogja, pada Jumat (05/03/2021).
Baca juga: Pemkab Magelang Siapkan Anggaran Rp108 Miliar untuk Pilkada Serentak 2024
Sementara itu, lanjut Parjiman, sebaliknya angka inflasi di wilayah Yogyakarta pada tahun 2020 mengalami kenaikan sebesar 1,40 persen secara tahunan.
Hal ini disebabkan, daya beli masyarakat yang masih sangat rendah.
"Daya beli masyarakat belum menunjukkan perbaikan. Padahal ini, sangat diperlukan untuk menggeliatkan perekonomian saat ini," ujarnya.
Ia menambahkan, sektor UMKM bisa menjadi salah satu sektor pendongrak perekonomian.
Sehingga, dukungan untuk membangkitkan UMKM secara merata perlu dilaksanakan.
"Dengan bangkitnya UMKM akan mempengaruhi daya beli masyarakat. Sehingga, fasilitas agar UMKM mampu bangkit dan pertahan perlu terus dilakukan," terangnya.
Sebelumnya, Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, Miyono menuturkan, kontraksi ekonomi yang terjadi di DIY akibat rendahnya daya beli di masyarakat.
Pada Triwulan IV 2020 kontraksi sebesar 2,69 persen.
Baca juga: Sudah Tidak Ada Kecamatan Zona Merah Covid-19 di Sleman
"Maka dari itu, untuk menaikkan daya beli masyarakat. Orang-orang kelas atas diimbau untuk membelanjakan uangnya. Karena, kalau hanya berharap dari bantuan BLT bagi masyarakat kelas bawah akan sulit untuk mendorong ekonomi," tuturnya.
Ia juga mengatakan, bagi kalangan kelas atas diimbau agar tidak menumpuk uangnya di bank.
Karena, saat ini yang memiliki modal lebih untuk melakukan perputaran uang hanya dari kalangan tersebut.
"Sekarang itu, dana di bank itu berlebih. Kenapa? Karena banyak masyarakat yang enggan membelanjakan uangnya. Jadi, ke depannya tentu diharapkan agar para pemilik modal tidak lagi menumpuk uangnya, supaya pergerakan ekonomi bisa terjadi," terangnya. (ndg)