Breaking News:

Yogyakarta

Menguak Kembali Urgensi Serangan Umum 1 Maret 1949 Sebagai Hari Besar Nasional

Serangan umum 1 Maret menunjukkan pada dunia bahwa Republik Indonesia masih eksis.

TRIBUNJOGJA.COM / Azka Ramadhan
Talkshow Peringatan Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949 di Pendopo Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Rabu (3/3/2021) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM - Peristiwa serangan umum 1 Maret 1949 yang berlangsung di Yogyakarta berhasil memberi dampak besar bagi kedaulatan Republik Indonesia di kancah dunia.

Karena itu, hinggga kini terus diupayakan agar peristiwa tersebut dijadikan sebagai hari besar nasional.

Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Aris Eko Nugroho berujar, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY telah mengusulkannya ke pemerintah pusat supaya 1 Maret ditasbihkan menjadi Hari Penegakan Kedaulatan Negara. Imbuhnya, proses ke arah sana, sudah ditempuh sejak tahun 2018 silam.

"Kita masih menunggu proses berikutnya. Sekarang kita diminta Kemendagri untuk memaaparkan kembali urgensi pengusulan tersebut," ujarnya, dalam talkshow Peringatan Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949 di Pendopo Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Rabu (3/3/2021) sore.

Baca juga: Dinpar Kulon Progo Fokus Kembangkan Panggung Geowisata Purba

Ia menilai, serangan umum 1 Maret merupakan peristiwa besar bagi sejarah republik ini dan kebetulan terjadinya di wilayah Yogyakarta.

Keberhasilan para pejuang memukul mundur pasukan Belanda dalam kisaran 6 jam, mampu memberikan pengakuan dan kedaulatan NKRI.

"Kita juga sudah sosialisasikan juga ke pemerintah di luar Yogyakarta. Dengan sosialisasi itu, kita menggugah beliau-beliau, dan memunculkan rasa memiliki. Sebenarnya kan bukan karena Yogyakartanya, tapi kebetulan peristiwa penting ini terjadinya di Yogyakarta," katanya.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Margana mengatakan, serangan umum 1 Maret menunjukkan pada dunia bahwa Republik Indonesia masih eksis.

Perundingan yang menghasilakan pengakuan kedaulatan, merupakan sebuah implikasi penting dari peristiwa ini.

Selain itu, implikasi yang seyogyanya dapat jadi renungan adalah bagaimana kontribusi rakyat kecil, yang tergabung dalam laskar-laskar, turut serta berjuang melalui gerakan semesta.

Baca juga: Tarif Tol Yogyakarta-Bawen Rp1.875 per Kilometer, PT JJB Targetkan Seksi I Selesai 2023

Kemudian, kaum perempuan ikut mendukung ketersediaan logistik untuk para gerilyawan.

"Saat itu, semua elemen bangsa bersatu. Diplomat, militer, serta dukungan penuh dari rakyat. Jadi, inti dari serangan umum 1 Maret adalah golong-gilig (menyatukan) unsur pemimpin dan rakyat, dengan tujuan memerdekakan, sekaligus menegakkan kedaulatan," cetusnya.

Sementara Ketua Paguyuban Wehrkreis III Yogyakarta, S. Sudjono mengungkapkan, keinginan untuk menjadikan 1 Maret sebagai hari besar nasional juga muncul dari para pelaku sejarah.

Sebab, tanpa peristiwa itu, belum tentu situasi dan kondisi Indonesia seperti sekarang.

"Peristiwa itu menjadi salah satu pintu Indonesia, tetap berlanjut dan diakui dunia. Jadi, keinginan untuk itu juga muncul dari para pelaku," pungkasnya. ( Tribunjogja.com )

Penulis: Azka Ramadhan
Editor: Gaya Lufityanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved