Gunung Merapi

BREAKING NEWS : Terjadi Awan Panas Guguran Beruntun di Gunung Merapi Malam Ini, Kamis 4 Maret 2021

BREAKING NEWS : Terjadi Awan Panas Guguran Beruntun di Gunung Merapi Malam Ini, Kamis 4 Maret 2021

Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA/ Setya Krisna Sumargo
ILUSTRASI - Guguran material batu pijar (rock fall) Merapi terus berlangsung hingga Selasa (23/2/2021) dini hari. Pengamatan dan pemotretan sejak Senin (22/2/2021) sekira pukul 21.30 WIB hingga pergantian hari, terjadi belasan kali guguran. Arah guguran terbagi tiga jalur, utamanya ke arah hulu Kali Boyong dan Kali Krasak. Sementara jalur baru ke hulu Kali Sat dari GOR Kaliurang tidak bisa dilihat secara sempurna karena terhalang punggungan lereng. Namun guguran tersebut bisa dicermati dari pendaran warna merah serta kepulan asap dari balik punggungan sisi barat puncak 

TRIBUNJOGJA.COM - Awan panas guguran kembali terjadi di Gunung Merapi malam ini, Kamis (4/3/2021), tepatnya pukul 21.42 WIB.

Informasi ini secara resmi diunggah melalui akun twitter resmi pihak BPPTKG.

"Awan panas guguran #Merapi tanggal 4 Maret 2021 pukul 21.42 WIB. Awan panas tercatat di seismogram dengan amplitudo 25 mm dan durasi 126 detik. Jarak luncur  +- 1.300 m ke arah barat daya," demikian kutipan unggahan tersebut.

Diberitakan sebelumnya, awan panas guguran terjadi di Gunung Merapi pagi ini, Kamis (4/3/2021), tepatnya pukul 03.57 WIB. 

"Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 38 mm dan durasi 123 detik, estimasi jarak luncur 1.200 m ke arah barat daya," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, Kamis (4/3/2021). 

Hanik menjelaskan, pada periode pagi ini pukul 00.00-06.00 WIB teramati pula 25 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimal 1.000 m ke arah barat daya.

Baca juga: UPDATE Gunung Merapi Kamis Pagi : Terjadi 1 Kali Awan Panas Guguran dan 25 Kali Guguran Lava Pijar

Baca juga: Meski Pengungsi Pulang, Status Tanggap Darurat Letusan Gunung Merapi di Klaten Masih Berlaku

Baca juga: Monyet Lereng Gunung Merapi Menjarah Makanan, Resahkan Pedagang di Wisata Tlogo Putri Sleman

MAKIN INTENS - Guguran material batu pijar (rock fall) Merapi terus berlangsung hingga Selasa (23/2/2021) dini hari. Pengamatan dan pemotretan sejak Senin (22/2/2021) sekira pukul 21.30 WIB hingga pergantian hari, terjadi belasan kali guguran. Arah guguran terbagi tiga jalur, utamanya ke arah hulu Kali Boyong dan Kali Krasak. Sementara jalur baru ke hulu Kali Sat dari GOR Kaliurang tidak bisa dilihat secara sempurna karena terhalang punggungan lereng. Namun guguran tersebut bisa dicermati dari pendaran warna merah serta kepulan asap dari balik punggungan sisi barat puncak
MAKIN INTENS - Guguran material batu pijar (rock fall) Merapi terus berlangsung hingga Selasa (23/2/2021) dini hari. Pengamatan dan pemotretan sejak Senin (22/2/2021) sekira pukul 21.30 WIB hingga pergantian hari, terjadi belasan kali guguran. Arah guguran terbagi tiga jalur, utamanya ke arah hulu Kali Boyong dan Kali Krasak. Sementara jalur baru ke hulu Kali Sat dari GOR Kaliurang tidak bisa dilihat secara sempurna karena terhalang punggungan lereng. Namun guguran tersebut bisa dicermati dari pendaran warna merah serta kepulan asap dari balik punggungan sisi barat puncak (TRIBUNJOGJA/ Setya Krisna Sumargo)

Secara visual, gunung jelas hingga kabut 0-I. Asap kawah tidak teramati.

Cuaca cerah dan berawan.

Angin bertiup lemah ke arah timur.

Suhu udara 13-23 °C, kelembaban udara 69-71 persen, dan tekanan udara 837-936 mmHg. 

Selain itu, terjadi beberapa aktivitas kegempaan lainnya di Gunung Merapi, yakni 35 guguran dengan amplitudo 3-18 mm dan durasi 11-112 detik dan 1 gempa hembusan dengan amplitudo 5 mm dan durasi 13 detik. 

Hanik menyampaikan, Gunung Merapi sampai saat ini masih berstatus siaga (level III).

Potensi bahaya saat ini, kata Hanik, berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, meliputi sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km.

Sedangkan, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Hanik menyampaikan, daerah di luar potensi daerah bahaya saat ini kondusif untuk beraktivitas sehari-hari.

"Diharapkan dapat berlangsung seterusnya. Namun, jika terjadi perkembangan erupsi yang mengarah ke daerah tersebut setidaknya masyarakat sudah memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Hal ini sesuai dengan konsep living harmony dengan Merapi," tambahnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved