Breaking News:

PRIHATIN, Hanya 30 Persen Siswa yang Punya Handphone Sendiri untuk PJJ di Gunungkidul

"Daerah yang benar-benar menengah ke bawah. Sebanyak 25 persen siswa diasuh oleh simbahnya, 50 persen dikategorikan siswa miskin.

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Kurniatul Hidayah
Tangkapan Layar
Webinar Sonjo Jogja #44 dengan tema Belajar Pada Masa Pandemi di Tengah Himpitan Ekonomi, Minggu (14/2/2021) 

Kedua, walaupun anak memiliki HP, tetapi seringkali tidak mendukung, semisal memorinya terbatas.

Ketiga, pengiriman foto atau video terkadang blur atau tidak jelas, sehingga sulit atau tidak dapat dibaca. 

Keempat, ketika anak di rumah tidak bisa fokus belajar dan harus menunggu orang tua. Kelima, anak susah belajar di rumah karena kurang penjelasan orang tua, orang tua juga tidak bisa menjelaskan pelajaran kepada anak dengan baik.

"Sehingga tugas yang dikirim anak itu asal kirim saja," imbuhnya. 

Kendati demikian, Ngatijo melanjutkan, pihaknya tidak menyerah begitu saja dengan segala keterbatasan itu. 

Setiap akhir, sekolah mengadakan evaluasi bagaimana masalah-masalah yang ada.

Kedua, pihaknya memanggil wali murid yang banyak masalah pengiriman atau sering terlambat mengirim. 

Ketiga, dalam PJJ ini pihaknya menerapkan daring dan luring, di antaranya dengan home visit ke rumah siswa, belajar terbatas di rumah wali murid atau musala, sekolah juga menyiapkan modul atau lembar kerja dan soal tertulis yang diambil ke sekolah. 

"Ketika mengambil di sekolah protokol kesehatan benar-benar kami terapkan. Kami juga membuat buku panduan belajar dan ibadah yang dipantau oleh orang tua dan setiap minggu dikirim," ungkapnya. 

"Kita tunggu sampai tanggal 22 Februari, kita harapkan (sekolah) sudah dibuka walaupun dengan protokol kesehatan ketat," sambungnya. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved