Breaking News:

Akademisi Bicara Tentang Body Shaming di Media Sosial, Punya Dampak Psikologis Serius

“Orang yang dianggap cantik atau ganteng pun tetap bisa terkena body shaming, karena banyak juga ungkapan seperti 'dia cantik tapi sayang

Istimewa
Talkshow daring tentang Body Shaming yang diselenggarakan oleh MIK UAJY bekerjasama dengan Yeureka Edukasi Cipta 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (MIK UAJY) bekerja sama dengan Yeureka Edukasi Cipta (YEU) mengadakan talkshow daring bertajuk “From Body Shaming to Body Proud”, beberapa waktu yang lalu.

Talkshow tersebut diadakan secara daring dengan menghadirkan dua orang narasumber yaitu Made Ayu Wahyuning Prativi (Psikolog Klinis) dan Dr Yoseph Bambang Wiratmojo SSos (Dosen FISIP UAJY) dengan moderator oleh Sherley Esperansa C SIKom.

Baca juga: Peringatan Dini BMKG, Daftar Wilayah Berpotensi Terjadi Cuaca Ekstrem Sabtu 13 Februari Hari Ini

Selain itu, talkshow ini juga menghadirkan juru bahasa isyarat untuk membantu peserta berkebutuhan khusus.

Narasumber pertama, Made Ayu mengungkapkan bahwa body shaming bisa dirasakan oleh siapa saja dan
tidak memandang standar kecantikan masyarakat.

“Orang yang dianggap cantik atau ganteng pun tetap bisa terkena body shaming, karena banyak juga
ungkapan seperti 'dia cantik tapi sayang ya kurang pintar',” ungkap Ayu.

Dr Yoseph Bambang W SSos dalam presentasinya menyoroti tentang body shaming yang terjadi di media sosial.

Bambang mengungkapkan jika terdapat tiga peran di media sosial yakni pelaku body shaming yang mengungkapkan lewat komentar di media sosial, korban, serta audiens yang biasanya melakukan aksi seperti memberi tanda suka (like), me-retweet, dan lain-lain.

“Banyak orang yang melakukan body shaming di media sosial karena sekarang media sosial bisa bersifat
anonim sehingga orang cenderung lebih berani,” jelas Bambang.

Baca juga: Polisi Minta 3 Pelaku Aksi Pembacokan di Jalan Gambiran Kota Yogyakarta Segera Serahkan Diri

Dampak psikologis dari body shaming terhadap korban ternyata sangat serius di antaranya perubahan sikap seperti mudah marah, tersinggung, cemas, malu, pendiam, mengisolasi diri/menarik diri dari lingkungan, menuntut diri lebih, diet ketat, mudah membenci diri sendiri dan perasaan sedih berkepanjangan.

Hal ini dikarenakan merasa malu dengan keadaan diri, merasa tidak diterima oleh lingkungan, rentan terhadap perasaan tertekan, stress dan tidak percaya diri.

“Body shaming membuat korban menjadi pelaku body shaming karena adanya motif dendam,” tambah
Ayu.

Oleh karena itu, di akhir materi, Ayu mengajak peserta untuk selalu berpikiran positif dan menerima diri
sendiri. (*)

Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved