Breaking News:

Transaksi Uang Dinar dan Dirham di Indonesia Menyalahi Undang-Undang, Begini Kata Pakar Ekonomi

Dosen Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan, Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) itu menjelaskan

Penulis: Ardhike Indah
Editor: Kurniatul Hidayah
Kompas.com
Koin Dinar Dirham 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Beberapa hari ini, beredar kabar ada transaksi menggunakan uang Dinar dan Dirham di Indonesia.

Dirham merupakan mata uang Uni Emirat Arab.

Menurut kurs harian, 1 Dirham kurang lebih setara dengan Rp 3.821,12.

Sementara, Dinar merupakan nama mata uang yang berlaku di beberapa negara di dunia, kebanyakan di negara-negara dengan mayoritas penduduk berbahasa Arab.

BPPTKG dalam Pengamatan Temukan Kubah Lava Kedua Gunung Merapi di Bagian Tengah Kawah

Transaksi dengan Dinar dan Dirham ini sempat viral di media sosial.

Belakangan, pengelola dan penggagas penggunaan Dinar dan Dirham di Pasar Muamalah, Depok, Jawa Barat, Zaim Saidi, ditangkap pihak kepolisian.

Tidak hanya itu, 3 Pasar Muamalah di Sewon, Bantul juga sudah ditutup Pemerintah Kabupaten Bantul, Jumat (5/2/2021).

“Untuk kasus transaksi menggunakan Dinar dan Dirham di Bantul dan Depok menurut saya tidak sesuai dengan Undang-undang,” ungkap Pakar Ekonomi, Dr Drs Y Sri Susilo MS kepada Tribun Jogja, Jumat (5/2/2021).

Dosen Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan, Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) itu menjelaskan Indonesia memiliki UU sendiri terkait mata uang.

Sehingga, tidak boleh ada mata uang lain yang digunakan selama melakukan transaksi di Indonesia.

PB ESI DIY akan Adakan Rekrutmen Terbuka Atlet Mobile Legend dan PUBG untuk Ikuti Kejuaraan Daerah

“Ini perlu merujuk pada UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang & Peraturan BI No. 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah NKRI,” katanya lagi.

Ia mengatakan, di beleid tersebut jelas bahwa setiap kegiatan transaksi pembayaran di Indonesia wajib menggunakan mata uang Rupiah.

Maka, apabila ada tempat di Indonesia yang melakukan jual beli tidak menggunakan Rupiah, perlu ditindaklanjuti karena menyalahi aturan. (ard)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved