Dampak Pandemi Pada Kampus Swasta Hingga 3 Tahun, Aptisi Wilayah V DIY Imbau PTS Lakukan Mitigasi

Pada penerimaan mahasiswa baru (PMB) tahun akademik 2020/2021 lalu, perguruan tinggi swasta (PTS) di DIY tak berani pasang ekspektasi tinggi-tinggi.

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Maruti Asmaul Husna
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, Prof Dr Didi Achjari (kiri) dan Ketua Aptisi Wilayah V DIY, Prof Fathul Wahid (kanan) dalam Konferensi Pers dan Launching PMB Bersama Aptisi V DIY Tahun Akademik 2021/2022, Kamis (28/1/2021). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pada penerimaan mahasiswa baru (PMB) tahun akademik 2020/2021 lalu, perguruan tinggi swasta (PTS) di DIY tak berani pasang ekspektasi tinggi-tinggi. 

Dampak pandemi pada sektor ekonomi sangat terasa, hal ini diprediksi berpengaruh pada jumlah calon mahasiswa yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. 

Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah V DIY, Prof Fathul Wahid, ST, MSc, PhD, mengatakan, tahun lalu kebanyakan PTS di DIY memasang target keterisian mahasiswa baru sebesar 50 persen saja. 

Namun, pada kenyataannya secara rata-rata ekspektasi tersebut dapat terlampaui.

Baca juga: Komentar Solskjaer Jelang Pertandingan Liga Inggris Arsenal Kontra MU

Fathul menuturkan, pada PMB 2020, rata-rata ketercapaian keterisian mahasiswa baru dari 103 PTS di DIY adalah 84,3 persen. 

Ketercapaian paling tinggi dialami oleh universitas, yakni sebanyak 88,7 persen. Sementara, paling rendah dialami institut, yakni 70,1 persen.

"Kampus paling minimum terisi 33 persen, sementara paling tinggi ada yang 100 persen lebih. Meski ada 1 (kampus) yang tidak dapat (pendaftar), tetapi ini karena ada masalah sebelum pandemi, jadi bukan karena pandemi," kata Fathul belum lama ini. 

"Ini potret yang masih memberikan banyak harapan. Karena harapannya PTS hanya terisi 50 persen, tetapi ternyata lebih tinggi dari yang diharapkan. Tahun ini kami berharap lebih baik lagi," sambungnya. 

Ia menambahkan, pada PMB tahun lalu hampir semua PTS di DIY melampaui ekspektasi keterisian mahasiswa baru. "Kenyataannya ada yang melebihi, ada yang pendaftarnya naik, tetapi ada juga yang turun," imbuhnya. 

Fathul menjelaskan, hal itu disebabkan karakteristik perguruan tinggi yang berbeda-beda.

Menurutnya, perguruan tinggi yang selama ini menjadi tujuan kalangan mengenah ke atas, belum banyak terdampak saat pandemi.

Namun, kampus yang menyasar kalangan menengah ke bawah, memang banyak terdampak. 

"Karena pandemi ini menggerus perekonomian sangat cepat," bebernya. 

Fathul pun mengimbau kepada perguruan-perguruan tinggi yang belum terdampak untuk tidak bersikap santai.

Sebab, menurutnya, bisa jadi dampak tersebut baru akan dirasakan beberapa tahun setelah pandemi berlangsung. 

"Kami sampaikan kepada perguruan tinggi yang belum terdampak, jangan santai saja, karena bisa jadi dampaknya baru dirasakan tahun ini. Sebab tabungan makin banyak tergerus, ekonomi tergerus, dan sebagainya. Karena pada saat krismon (krisis moneter) dulu dampaknya itu 2-3 tahun kemudian," paparnya. 

"Ini yang perlu masuk radar semua PTS. Kalau tahun ini aman belum tentu tahun depan aman, belum tentu 2 tahun lagi aman. Perlu diperhatikan dengan berbagai langkah mitigasi," lanjut Rektor Universitas Islam Indonesia itu. 

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, Prof Dr Didi Achjari mengungkapkan, dari sisi pemerintah pihaknya turut memberikan opsi bantuan kepada calon mahasiswa.

Yaitu, dalam bentuk kartu Indonesia pintar kuliah (KIP-K) dan bantuan uang kuliah tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang terdampak Covid-19. 

"Kami mencoba menggaet mahasiswi itu kuliah di Yogya, dengan cara kemudahan persyaratan bantuan bagi mahasiswa terdampak Covid-19, kedua melalui Bidikmisi (KIP-K) yang terus berjalan. Mudah-mudahan alokasinya tahun ini meningkat untuk wilayah V ini," ujar Didi. 

Ia menjelaskan, persyaratan untuk mendapatkan bantuan tersebut pada tahun ini relatif lebih mudah.

Jika dahulu ada persyaratan harus menempuh semester tertentu, maka pada tahun ini dapat berlaku bagi semua mahasiswa yang terdampak. Aturan-aturan lain pun menurutnya telah disesuaikan lebih fleksibel. 

Baca juga: Bisa Magang dan Kerja di Shopee, Sea Scholarship Indonesia Hadir di Enam Kampus Ternama Tanah Air

Saat ini, lanjut Didi, tinggal bergantung kepada kampus-kampus apakah mau menangkap tawaran alokasi atau kuota KIP-K dari pemerintah itu atau tidak.

"Untuk prodi (program studi) tertentu yang berbiaya mahal itu memang enggak nutup, tetapi yang biayanya murah seperti bidang sosial banyak yang mau masuk ke situ," terangnya. 

Didi menambahkan, pada 2020, DIY menerima total 4.157 mahasiswa dari jalur KIP-K. Adapun kampus tertinggi di DIY menerima sebanyak 491 mahasiswa KIP-K. 

Sedangkan, untuk mahasiswa yang terdampak Covid-19, yang dibantu dalam pembayaran UKT sebanyak 12.211, terbagi dalam 90 kampus yang menerima.

"Dari jumlah itu ada kampus yang menerima 1.165 mahasiswa, ada yang hanya 2 mahasiswa. Variasinya banyak sekali," bebernya. (uti) 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved