BPPTKG: Probabilitas Gunung Merapi Bahayakan Penduduk Karena Erupsi Masih Tinggi
Ada kemungkinan Gunung Merapi akan erupsi, namun ada juga kemungkinan setelah kriris panjang lalu diam atau tidak terjadi erupsi.
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida mengungkapkan kondisi Gunung Merapi saat ini masih menunjukkan probabilitas yang tinggi terhadap terjadinya erupsi yang akan membahayakan penduduk.
Dengan demikian, pihaknya pun harus terus mengevaluasi data aktivitas Gunung Merapi yang ada saat ini.
Hanik melanjutkan, pada 27 Oktober hingga 3 Desember 2020 ada sedikit penurunan aktivitas Gunung Merapi dibanding sebelumnya.
Namun, mulai 21 Desember 2020 sampai saat ini terjadi peningkatan aktivitas kembali.
"Gempa MP (fase banyak) sangat kelihatan, yang kemarin sempat benar-benar menurun, namun sekarang meningkat kembali. Gempa DG (hembusan) juga yang tadinya ada penurunan sekarang meningkat kembali. Deformasi sempat 9 cm/hari, sekarang kembali ke 11 cm/hari," ujar Hanik dalam Siaran Informasi BPPTKG, Selasa (29/12/2020).
Selain itu, lanjutnya, untuk gas yang dihasilkan relatif fluktuatif, namun nilainya masih relatif tinggi.
Baca juga: Gempa Vulkanik Dangkal dan Hembusan Gunung Merapi Meningkat
Energi Gunung Merapi lebih besar dari 2010
Hanik mengungkapkan, energi Gunung Merapi pada 2006 memiliki kecenderungan yang landai.
Berbeda dengan 2010 yang mana terjadi peningkatan secara eksponensial atau ada peningkatan yang tajam.
Menurut Hanik, jika dibandingkan berdasarkan jumlah energi yang dikeluarkan, kondisi Gunung Merapi sekarang sudah sangat tinggi dibanding 2010.
Namun demikian keduanya memiliki pola yang berbeda.
"Kalau 2010 ada akselerasi, kalau 2020 ini ada penambahan karena lamanya masa krisis sekarang ini. Jadi sekarang sudah melebihi tahun 2010, karena jumlah gempanya pada 2010 itu 8.894 dengan energi 76 GJ. Sementara sekarang besar energinya 203 GJ dan jumlah gempanya 20.592," papar Hanik.
Hanik menjelaskan, jika merujuk pada model kriris gunung api di dunia, ada kemungkinan Gunung Merapi akan erupsi, namun ada juga kemungkinan setelah kriris panjang lalu diam atau tidak terjadi erupsi.
"Tidak harus probabilitas yang terbesar yang akan terjadi, tetapi probabilitas yang lebih kecil juga kemungkinan terjadi. Saat ini kemungkinan erupsi masih tetap ada jadi kita harus merespons aktivitas yang ada sehingga tidak ada korban dan kerugian harus seminimal mungkin," beberapa Hanik.