Breaking News:

Yogyakarta

Terpukul Pandemi COVID-19, Kusir Andong Malioboro Kini Hanya Tersisa 387

Akibat pariwisata yang limbung, ratusan kusir andong di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memilih berhenti beroperasi.

Penulis: Miftahul Huda
Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Miftahul Huda
Kusir andong di Malioboro mengeluh turunya omzet selama pandemi COVID-19, Jumat (25/12/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Akibat pariwisata yang limbung, ratusan kusir andong di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memilih berhenti beroperasi.

Bukan tanpa sebab para kusir andong di Malioboro itu berhenti mengais rejeki.

Mayoritas mereka berhenti beroperasi karena tingginya biaya operasional tak sebanding dengan pendapatan di tengah pandemi Covid-19.

Hal itu diungkapkan Ketua Kusir Andong Malioboro Purwanto yang mengeluhkan sepinya wisatawan sejak pandemi COVID-19 masuk ke wilayah DIY.

Baca juga: Larangan Kendaraan Bermotor Melintasi Malioboro Ditiadakan Selama Libur Nataru

Ia menjelaskan, ada sekitar 149 andong di DIY yang tidak sanggup bertahan di tengah pandemi COVID-19.

Karena tingginya biaya operasional satu unit andong, dikatakan olehnya bahwa beberapa kuda juga ada yang terpaksa diual karena pemilik andong tak mampu untuk merawat.

"Ada yang dijual, ada yang sampai mati. Karena memberi makan kuda lebih mahal daripada pemiliknya. Kalau pandemi gini pemiliknya makan sambel ndak masalah, lah kudanya kan tidak," katanya, kepada Tribunjogja.com, Jumat (25/12/2020).

Sebelum adanya pendemi, total andong di DIY sebanyak 536 unit, sejak Maret lalu perlahan para kusir andong mulai terpuruk sehingga beberapa di antaranya menjual kuda peliharaannya itu.

Baca juga: Sambut Wisatawan Saat Nataru, PKL Malioboro Rutin Semprot Lapak Setiap Hari

Saat ini total kusir andong yang tersisa hanya sebanyak 387 dan masih bertahan hingga saat ini.

Kondisi seperti saat ini dirasa olehnya sangat miris.

Apalagi sejak munculnya kebijakan pembatasan wisatawan oleh pemerintah, turut berimbas kepada Purwanto dan kawan-kawan.

Meski begitu, Purwanto tetap berharap agar angkutan tradisional sebagai ikon di Malioboro itu bisa tetap lestari.

"Sangat miris sekali. Apalagi ada pembatasan wisatawan itu. Ya harapannya libur Natal dan tahun baru ini bisa dapat wisatawan banyak," pungkasnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved