Kejahatan Skimming

Awas, Kejahatan Skimming Semakin Canggih, Hati Hati dan Waspada Memilih Mesin ATM

Awas, Kejahatan Skimming Semakin Canggih, Hati Hati dan Waspada Memilih Mesin ATM

Daily Mail
Ilustrasi : Skimming 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Beredar di media sosial beberapa hari terakhir, kasus skimming atau pembobolan data kartu debit maupun kredit yang terdapat pada mesin ATM kembali marak di DIY.

Kepala Pusat Studi Forensika Digital Fakultas Teknik Industri UII, Yudi Prayudi mengungkapkan, skimming adalah sebuah teknik yang orientasi fokusnya adalah untuk melakukan pembobolan dengan menggunakan teknik untuk duplikasi data lewat mesin ATM.

Menurutnya, prosedur atau proses awal pembobolan adalah adanya data yang diduplikasi oleh pihak-pihak tertentu melalui ATM.

"Skimming itu sendiri berevolusi dari skimming yang dilakukan 10 tahun lalu, 5 tahun lalu, atau pun hari ini itu berbeda.

Di satu sisi teknologi di ATM itu juga sudah semakin maju, sehingga mesin-mesin ATM terbaru juga sudah berusaha untuk menerapkan teknologi anti skimming," ujar Yudi saat dihubungi Tribunjogja.com, Sabtu (12/12/2020).

Ia menjelaskan, pada teknologi skimming versi lama pembobol berusaha menduplikasi data dari kartu ATM dan data PIN, yang nantinya data tersebut dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Ilustrasi : Skimming
Ilustrasi : Skimming (Daily Mail)

Salah satu evolusi lain dari skimming saat ini, terang Yudi, teknik untuk menduplikasi data tidak langsung di mesin ATM, tetapi dengan menggunakan media teknologi informasi yang itu salah satunya adalah dengan konsep man in the middle (MiTM).

"Jadi jalur skimming-nya itu didapat saat transmisi data dari ATM ke server. Itu menggunakan tambahan alat yang dia berusaha menangkap data yang dikirimkan. Itu teknik yang lebih modern," ucapnya.

Adapun untuk menghindari skimming, Yudi mengatakan memang dianjurkan jika ingin menggunakan transaksi ATM, gunakan ATM yang terjamin keamanannya. Salah satunya di ATM bank yang berlokasi di kantor cabangnya atau bahkan di dalam bank.

Sebab, ATM yang berada di dalam lingkup bank memiliki proses penjagaan yang lebih ketat.

"Memang kita harus berhati-hati kalau menggunakan ATM di tempat terpencil, jauh dari keramaian, jauh dari penjagaan karena jika ada tindakan skimming di tempat tersebut pengawasannya kurang," imbuhnya.

Baca juga: Hebat, Seniman Berusia 84 Tahun Ini Masih Rajin Berkarya, Bakal Bikin Patung Setinggi 7 Meter

Baca juga: Selokan di Mantrijeron Ini Telah Disulap Jadi Kolam Ribuan Ekor Ikan Siap Panen

Baca juga: Ini Dia Aplikasi Transaksi Digital Untuk UMKM DI Yogyakarta, Namanya Aplikasi Jogjakita

Kedua, kata Yudi, kita sebagai nasabah harus memahami perilaku mesin ATM itu sendiri.

Jika kita sudah terbiasa dengan penggunaan mesin ATM, lalu menemukan menu atau tombol-tombol yang berbeda, maka harus berhati-hati.

"Ini salah satu cara yang dipakai oleh orang tidak bertanggungjawab untuk mengelabui calon korbannya. Dia bisa menambahi sesuatu di mesin ATM tersebut," beber Yudi.

Yudi menambahkan, biasanya pemeliharaan ATM berada di pihak ketiga atau kontraktor.

Tidak ditangani oleh bank secara langsung. Sehingga, menurutnya, pihak ketiga ini harus melakukan kontrol secara ketat terhadap anomali transaksi ATM.

Pihak ketiga yang bertanggungjawab untuk lebih meningkatkan perawatan dan keamanan mesin ATM.

Termasuk secara berkala tidak hanya melakukan scanning terhadap keamanan mesin ATM itu sendiri, tetapi juga melakukan scanning terhadap keamanan lingkungan mesin ATM.

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved