Breaking News:

Balai PRSW Dinsos DIY Lakukan Inovasi pada Program Pelayanan Terkait Permasalahan Sosial

Kepala Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Wanita Dinsos DIY, Retno Basundari mengatakan, perlunya inovasi dalam setiap program

Tribunjogja/ Nanda Sagita Ginting
Kepala Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Wanita Dinsos DIY, Retno Basundari saat ditemui Tribunjogja.com, pada Jumat (11/12/2020) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Seiring perkembangan zaman, hubungan sosial antarmanusia mengalami perubahan. Akibatnya, permasalahan yang timbul terkadang tak lagi relevan diselesaikan dengan cara lama.

Karenanya, Balai Perlindungan Rehabilitas Sosial Wanita (PRSW) Dinas Sosial DIY di Jalan Cokrobedog, Sidoarum, Godean, Kabupaten Sleman, terus melakukan inovasi untuk menjawab permasalahan sosial yang ada.

Kepala Balai PRSW Dinas Sosial DIY, Retno Basundari, mengatakan, saat ini memang sangat dibutuhkan inovasi dalam setiap program pelayanan guna menyesuaikan dengan kondisi terkini.

"Kami berinovasi melalui program pelayanan untuk memudahkan mencari solusi permasalahan yang dialami para klien (pasien). Program yang sudah ada harus terus diinovasi sesuai ritme perkembangan zaman," jelasnya, Jumat (11/12).

Tiga program inovasi pun digagas oleh Balai PRSW Dinsos DIY untuk memenuhi kebutuhan para klien. Pertama adalah Wisma Bunda (Wisbun), yang sudah berjalan sejak 2014.

Program tersebut merupakan pelayanan terpadu bagi ibu dan anak. Selain itu, program ini juga memberikan pelayanan khusus dan terpadu kepada korban kekerasan baik fisik, psikologis, seksual

"Sebelumnya, progran Wisbun tidak ada dalam pelayanan rehabilitasi. Namun, seiring waktu berjalan, ternyata kasus mengalami peningkatan sehingga dibuatlah program Wisbun," terang Retno.

Program Wisbun akan membangun kembali mental para klien agar tidak berputus asa.

Wisbun merupakan wadah edukasi bagi wanita yang baru saja melahirkan atau yang sudah memiliki anak.

“Kedua adalah program Cepat, Lindungi dan Layanan Wanita Korban Tindak Kekerasan atau Celilawakotik. Program itu ditujukan wanita yang mengalami segala tindak kekerasan,” tambahnya.

Menurut Retno, butuh tindakan cepat supaya wanita korban kekerasan tidak melakukan tindakan fatal, semisal menyakiti diri sendiri.

“Semakin ke sini, tingkat kekerasan terhadap wanita terus meningkat sehingga perlu penanganan cepat. Apalagi, kebanyakan pelaku berasal dari keluarga terdekat," katanya.

Program ketiga yang digagas oleh Balai PRSW Dinsos DIY adalah Pojok Bermain Wisma Bunda (Poin Manda). Program tersebut diperuntukkan anak batita para klien.

"Karena permasalahan sosial terhadap wanita terus meningkat, kami pun memberikan fasilitas Poin Manda bagi anak-anak para klien untuk bermain," tuturnya.

Poin Manda adalah inovasi lanjutan wisbun dimana berupa inovasi pelayanan yang bertujuan memberikan rasa nyaman dan lebih mudah/cepat dalam pemulihan trauma yang di alami.

Tak cukup, Balai PRSW Dinsos DIY pun menyediakan bimbingan keterampilan, meliputi jahit, tata rias, olah pangan, dan batik.

Untuk tahap awal, para klien akan mempelajari terlebih dulu keterampilan batik guna mengetahui minat dan bakat yang dapat dikembangkan.

“Setelahnya, para klien akan ditempatkan di masing-masing bidang yang dikuasi, yaitu jahit, tata rias, atau olah pangan. Para klien yang sudah mendapatkan bimbingan pelatihan dan lulus mengikuti ketrampilan Praktek Belajar Kerja (PBK) dengan baik berhak untuk mengikuti proses sertifikasi,” pungkas Retno. (adv/ndg)

Penulis: Nanda Sagita Ginting
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved