Dekayu, Berawal dari Ide Manfaatkan Limbah Kayu

Berbekal semangat dan keinginan berwirausaha, Yaniar Fernanda mengawali bisnis kerajinan kayu sebagai usaha rintisan pada 2017.

Penulis: DNA | Editor: MGWR
Dok. Humas JNE
Owner Dekayu Yaniar Fernanda berbincang dengan host saat taping konten Youtube JNE, Selasa (8/12/2020). 

TRIBUNJOGJA.com – Berbekal semangat dan keinginan berwirausaha, Yaniar Fernanda atau yang akrab dipanggil Nia mengawali bisnis kerajinan kayu sebagai usaha rintisan pada 2017. Bisnis rintisan itu dia namakan dengan brand "Dekayu".

Dari melihat potongan-potongan limbah kayu yang dihasilkan para pengrajin, ide Nia muncul untuk membuat lampu kayu.

Bukan lampu kayu biasa, tetapi lampu kayu custom yang dapat dipesan sesuai dengan keinginan atau desain dari pembelinya.

Seiring dengan permintaan pasar dan pelanggan Dekayu yang semakin kompleks, Nia mulai mengembangkan produknya menjadi produk inovasi agar dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Kemudian, ia mulai menggerakkan perajinnya di beberapa daerah seperti di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Mereka diminta untuk memproduksi piring, gelas, sendok, garpu maupun perabotan rumah dari kayu.

Gayung bersambut, produk baru Dekayu direspon positif oleh komunitas fotografi. Mereka memanfaatkan produk-produk tersebut sebagai properti foto.

Sejak saat itu, Dekayu mengalami peningkatan pesanan yang signifikan. Bahkan, saat pandemi seperti ini jumlah pengiriman paket dari Dekayu stabil antara 80 - 100 paket per hari.

Begitu pula timnya, mulai disibukkan dengan pengemasan dan pengiriman ke ekspedisi.

Nia mengaku sangat terbantu dengan adanya fasilitas penjemputan paket dari PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Setidaknya, waktu dan tenaga karyawan yang tadinya harus bolak-balik ke ekspedisi, dapat dialihkan untuk membantu pekerjaan lainnya.

Jika pesanan meningkat tajam, seperti saat lebaran, Nia bisa memesan penjemputan lebih dari sekali dalam satu hari.

Apalagi, setelah bergabung sebagai member JNE Loyalty Card (JLC), Nia juga ikut diuntungkan dengan adanya poin setiap melakukan transaksi di JNE.

“Kadang, kami enggak sempat cek jumlahnya, tahu-tahu dapat gift balik dari poin yang ditukarkan dengan hadiah pilihan” kata Nia, seperti dalam keterangan tertulis yang Tribun Jogja terima, Selasa (08/12/2020).

Menurut Nia, kebutuhan pengiriman paket tak cukup sekedar barang sampai ke alamat, tetapi juga bagaimana agar paket Dekayu diterima dalam keadaan aman dan tetap cantik.

Maka dari itu, Nia memilih JNE sebagai ekspedisi. Ini karena, selain tepat waktu, JNE juga dapat menjaga keamanan semua produk Dekayu yang rata-rata berbentuk bingkisan.

Selain itu, layanan chat customer care JNE Yogyakarta turut memudahkannya dalam pengecekan status paket

Seperti sekarang, satu orang pegawai tengah melakukan pengecekan barang di warehouse Dekayu yang terletak di Jalan M. Supeno tak jauh dari toko offline

Adapun offline store tersebut mulai dibuka pada 2019.

“Awalnya kami hanya melayani pembelian secara online. Namun, karena banyak pelanggan yang ingin memastikan produknya sesuai dengan pesanan, mereka kerap datang langsung,” ujar Ibu dua anak ini.

Nah, lanjut dia, akhirnya kami membuka toko tak jauh dari warehouse ini agar pelanggan merasa nyaman berbelanja.

Dekayu sendiri selalu menerapkan quality control untuk setiap produk yang dipesan sebelum kemudian dikemas dan dikirimkan ke pembeli.

Sementara itu, Kepala JNE Cabang Yogyakarta Adi Subagyo mengatakan, JNE telah siap merintis jalur darat sebagai alternatif moda transportasi selain jalur udara.

“Hal tersebut sekaligus untuk mengatasi adanya pandemi tak terduga seperti saat ini,” ujar Adi.

Dengan begitu, kata dia, pengiriman barang para pelanggan setia tetap selamat sampai tujuan dengan tepat waktu. Bahkan, ketika seluruh bandara sempat tutup di masa awal pandemi, jadwal pengiriman tidak berpengaruh.

Tags
JNE
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved