Breaking News:

Kolom KPU DIY

Jangan Ragu ke TPS!

Sikap ragu pemilih untuk memberikan suara merupakan salah satu tantangan penyelenggaraan pemilihan serentak lanjutan 2020.

TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Ketua KPU DIY Hamdan Kurniawan 

Oleh: Ketua KPU DIY, Hamdan Kurniawan

TRIBUNJOGJA.COM - Sikap ragu pemilih untuk memberikan suara merupakan salah satu tantangan penyelenggaraan pemilihan serentak lanjutan 2020.

Dari sejumlah forum diskusi yang penulis ikuti, pertanyaan yang kerap terlontar kurang lebih memiliki kecenderungan serupa: Apakah aman menggunakan hak pilih di TPS di tengah pandemi Covid-19? Adakah protokol kesehatan yang dijalankan di TPS?

Pertanyaan tersebut wajar dilontarkan kepada KPU, sebab sebagian pemilih kita belum mengetahui protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 dalam penyelenggaraan pemungutan dan penghitungan suara tanggal 9 Desember 2020.

Menjadi kewajiban KPU dalam penyebaran informasi ini agar pemilih yakin TPS aman bagi kesehatan mereka.
Protokol kesehatan yang diterapkan dalam pemungutan dan penghitungan suara antara lain memastikan sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya dalam keadaan sehat. Sebelum ditetapkan sebagai petugas KPPS, mereka harus memenuhi syarat usia antara 20-50 tahun dan tidak memiliki riwayat penyakit penyerta.

Mereka juga menjalani rapid test, beberapa hari sebelum bertugas. Jika hasil tes reaktif, selanjutnya menjalani tes usap. Petugas yang positif Covid-19 akan ditangani lebih lanjut oleh gugus tugas dan diganti dengan petugas baru.

Dari sisi logistik, KPU telah menyiapkan 11 item alat pelindung diri sebagai sarana dan prasarana pelaksanaan protokol kesehatan di TPS, antara lain masker, pelindung wajah (faceshield), handsanitizer, alat pengukur suhu (thermogun), sarung tangan medis untuk KPPS, sarung tangan plastik untuk pemilih, tempat sampah, tempat cuci tangan dan sabun, disinfektan, alat tetes tinta, dan baju hazmat.

Prosedur pelaksanaan pemungutan-penghitungan suara diatur secara khusus di Peraturan KPU Nomor 6 Tahun 2020. Pemilih akan diatur kehadirannya di TPS dengan penyebutan jam menggunakan hak pilih pada surat pemberitahuan. Pengaturan ini agar tidak terjadi antrean yang menyebabkan penumpukan pemilih atau kerumunan di TPS.

Saat pemilih datang, mereka sudah harus memakai masker dan diminta memunci tangan dengan sabun serta diukur suhu tubuhnya sebelum memasuki area TPS oleh petugas KPPS. Petugas akan memberikan masker kepada pemilih jika belum menggunakannya. Jika suhu tubuh dibawah 37,3 derajat celcius, mereka dapat melanjutkan proses. Jika di atas suhu normal, mereka akan diarahkan ke bilik khusus yang tersendiri letaknya.

Di dalam TPS, kursi pemilih hanya dibatasi sebanyak 9 buah dan diatur jarak aman. Pemilih akan mendapatkan sarung tangan plastik dan diminta menuju bilik untuk menggunakan haknya.

Setelah selesai, pemilih membuang sarung tangan ke tempat sampah, lantas salah satu jari ditetesi tinta sebagai tanda telah menggunakan suara, mencuci tangan kembali, dan segera meninggalkan TPS agar tidak terjadi kerumunan di TPS. Secara berkala, petugas akan melakukan penyemprotan disinfektan untuk menjaga agar area TPS tetap steril.

Dengan SDM yang sehat, alat pelindung diri yang lengkap serta prosedur protokol kesehatan pencegahan covid-19 yang ketat, tidak perlu lagi muncul keraguan untuk menggunakan hak pilih di TPS. Pemilih yang mematuhi protokol kesehatan sebagaimana telah diatur, berarti turut membantu upaya pencegahan penyebaran Covid-19. (*)

Editor: ribut raharjo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved