Sleman
Dinkes Sleman Khawatirkan Lonjakan Kasus COVID-19 Setelah Libur Panjang
Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman khawatir libur panjang Natal dan Tahun Baru dapat menambah jumlah kasus COVID-19 di Kabupaten Sleman.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman khawatir libur panjang Natal dan Tahun Baru dapat menambah jumlah kasus COVID-19 di Kabupaten Sleman.
Berkaca dari libur panjang sebelumnya, terjadi peningkatan kasus yang signifikan pada 7 hingga 10 hari setelah liburan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo mengatakan perlu ada penanganan khusus jika tidak ingin kasus COVID-19 semakin meningkat.
Ia memprediksi peningkatan kasus akan terjadi mulai pertengahan hingga akhir Januari 2021.
Baca juga: Libur Panjang Nataru, Satgas COVID-19 Sebut Citra Pariwisata DI Yogyakarta Jadi Taruhan
"Pas liburannya tidak ada penambahan kasus, tetapi setelah liburan pasti ada penambahan kasus. Seperti kemarin libur panjang kan begitu. Pas liburannya tidak terdeteksi, setelah liburan langsung melonjak,"katanya saat ditemui di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Jumat (04/12/2020).
"Kalau tidak ada penanganan khsusus akan menjadi sulit (pengendalian kasus). Apalagi nanti Januari sekolah sudah mulai tatap muka, ini juga harus diperhatikan,"sambungnya.
Untuk mengendalikan penambahan kasus COVID-19, Joko menyebut pasien terkonfimasi positif harus menjalani isolasi, sedangkan masyarakat yang sehat harus menjalani karantina.
Tidak perlu lama, paling tidak 14 hari saja, asal seluruh elemen masyarakat kompak.
Munurut dia, penanganan kasus seperti awal pandemi cukup baik untuk mengendalikan kasus.
Baca juga: BREAKING NEWS : Seluruh Kapanewon di Sleman Masuk Zona Merah COVID-19
Sebab mobilitas masyarakat terbatas.
"Ya kembali seperti awal pandemi lagi, menerapkan WFH (work from home), ibadah di rumah, sama seperti dulu. Tidak perlu lama-lama, kalau semua kompak 14 hari pasti penularan menurun. Ini masih kami usulkan, karena kasihan juga teman-teman kesehatan," terang dia.
Namun demikian, jika usulan tersebut tidak bisa dijalankan, konsekuensi yang harus dihadapi adalah lonjakan kasus.
"Masyarakat juga tidak perlu kaget kok angka penambahannya tinggi, karena itu konsekuensinya,"lanjutnya.
Hingga Kamis (03/12/2020) ada 2.969 warga Sleman yang terpapar COVID-19 sejak awal pandemi, 45 di antaranya meninggal dunia. (Tribunjogja.com)