Panen Besar, Kepala DPP Gunungkidul Sebut Lahan Klayar "Emas Hitam" Pertanian

Tanaman yang dikembangkan oleh kelompok tani Pedukuhan Klayar antara lain berupa melon, semangka, dan cabai.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Muhammad Fatoni
dok.DPP Gunungkidul
Tim DPP Gunungkidul bersama petani Ngudi Makmur Klayar menunjukkan buah melon hasil panen. 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur di Pedukuhan Klayar, Kalurahan Kedungpoh, Nglipar, Gunungkidul baru-baru ini kembali melakukan panen besar.

Tanaman yang dipanen merupakan jenis holtikultura.

Ketua Poktan Ngudi Makmur, Khoirudin, mengatakan tanaman yang dikembangkan antara lain berupa melon, semangka, dan cabai.

"Sudah dua tahun terakhir budidaya dilakukan dan ternyata keuntungan yang didapat sangat besar," kata Khoirudin memberikan keterangannya pada Selasa (01/11/2020).

Adapun panen dilakukan pada tanaman melon dan cabai rawit. Sebanyak 30 ton melon dan 10 ton cabai rawit diperkirakan berhasil dipanen pada periode ini.

Lewat dua jenis tanaman holtikultura tersebut, Khoirudin mengungkapkan pihaknya bisa meraup hasil penjualan mencapai Rp500 juta.

Sebab harga melon dan cabai rawit sendiri tergolong tinggi di pasaran.

"Harga melon di pasaran saat ini sekitar Rp10 ribu per kilogram, sedangkan cabai rawit sekitar Rp20 ribu per kilonya," jelasnya.

Jika dirinci, hasil yang didapat dari melon mencapai lebih dari Rp300 juta.

Sedangkan cabai rawit bisa mencapai Rp 200 juta. Keuntungan yang didapat petani pun juga terbilang besar.

Pasalnya, dalam satu tanaman melon bisa menghasilkan 3 buah dengan berat masing-masing mencapai 2 kilogram.

Sedangkan satu tanaman cabai rawit mampu menghasilkan 1 kilogram cabai.

"Untungnya saat musim hujan seperti ini hasil tanaman tidak terlalu terganggu," ungkap Khoirudin.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, menganggap lahan di Klayar memiliki potensi yang besar. Pasalnya ada sejumlah keunggulan yang dimiliki lahan tersebut.

Berdasarkan kajian yang dilakukan, tanah di Klayar bersifat tidak terlalu mengikat air.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved