Kisah Inspiratif
Merasakan Segarnya Scottish Marmalade Buatan Warga Sleman
Mengonsumsi scottish marmalade sangat cocok di kondisi pandemi karena dapat menjadi booster imunitas tubuh.
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Scottish marmalade ialah semacam selai jeruk yang berasal dari negara Skotlandia.
Panganan yang lazim menjadi pelengkap roti ini cukup sulit ditemukan di DIY.
Namun, sekelompok ibu rumah tangga di Sleman telah memulai produksi scottish marmalade di tengah pandemi.
Fani Listyana merupakan warga Wonosari, Gunungkidul yang bersuamikan warga Skotlandia.
Wanita berusia 32 tahun ini mewarisi resep scottish marmalade dari nenek moyang sang suami.
Sebelum pandemi, Fani dan suami tinggal di Bali.
Baca juga: Masker Lurik Murah Beromzet Jutaan Rupiah, Hasil Tangan Dingin Dea Si Mahasiswi Semester Akhir
Sejak dua tahun belakangan, ia telah menjalankan usaha scottish marmalade untuk di-supply ke villa dan resort di sana.
Namun, sejak pandemi industri pariwisata di Bali terpuruk, usaha Fani pun ikut terdampak.
Ia akhirnya mencoba peruntungan untuk pindah dan menjalankan usaha di Yogyakarta.
Sembari memastikan kondisi orang tuanya yang menetap di sini.
Dua bulan lalu, Fani memberanikan diri menjalankan roda usaha scottish marmalade kembali di Yogyakarta.
Sementara, Faida Zuhria (36) menjadi partner-nya dan bersama-sama memanfaatkan hasil kebun produk kelompok wanita tani (KWT) Tiara yang berlokasi di Mangunan, Sleman.
"Ini dibuat memang untuk support KWT, bukan semata karena bisnis. Selain lemon lokal yang digunakan untuk bahan marmalade, kami berencana mengembangkan buah-buahan lain untuk produk unik lainnya," tutur Fani.
Dalam satu kali produksi, scottish marmalade buatan Fani dan tim memerlukan bahan lemon lokal 1 kg dan jeruk sunkist 3 kg.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/merasakan-segarnya-scottish-marmalade-buatan-warga-sleman.jpg)