Breaking News:

Slamet Wahyuni, Pemuda Pelopor Tenarnya Kopi Merapi Babadan

Masa panen raya kopi Arabica Dusun Babadan sudah lama berlalu. Saat ini, ribuan tanaman kopi di dusun lerengbarat Merapi tengah berbunga.

Tribunjogja/ Setya Krisna Sumargo
pelopor tenarnya kopi Babadan atau kopi Merapi Babadan 

Tak meneruskan SMA, Slamet mengikuti Kejar Paket C, yang ijazahnya ia pakai untuk melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi keagamaan swasta di Magelang.

“Saya ada stok cukup banyak, tersimpan sangat baik. Ada yang mau memborong, tapi saya tahan dulu,” kata pemuda kelahiran 25 Februari 2000 ini.

Ia memiliki alasan khusus, bersifat taktis bisnis. Slamet Wahyuni bertindak sebagai pengepul biji kopi Dusun Babadan.

Ia lalu menjual kopi dalam bentuk green bean. Sebagian kecil ia roasting, lalu digiling dan disiapkan dalam bentuk kopi bubuk.

Slamet membuat label merek Kopi Merapi Babadan. “Penjualan sementara baru lewat media sosial,” akunya.

Ia sebenarnya bisa menjual di market place, tapi belum siap memulainya. “Harus siap stok kalo sudah masuk market place,” katanya.

Namun begitu, lewat jaringan pebisnis kopi lokal, regional maupun nasional, Slamet tidak terlampau sulit memasarkan komoditas pertanian ikon Kabupaten Magelang ini.

Selain menjual dan memperkenalkan kopi Merapi Babadan, Slamet Wahyuni secara teknis ikut menangani kopi sesudah dipetik dari kebun.

Mulai saat pengupasan, pengeringan, hingga penyimpanan. “Saya juga kadang membantu menangani di kebun jika misal ada serangan hama atau penyakit,” katanya.

Selebihnya pekerjaan perawatan dan pemeliharaan di kebun jadi tanggungjawab Pak Poni, ayah Slamet. “Urusan kebun bagian saya,” kata Pak Poni.

Halaman
1234
Penulis: Setya Krisna Sumargo
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved