Yogyakarta

Pasokan Air Bersih di DI Yogyakarta Diproyeksi Mengalami Defisit pada Tahun 2020

Berdasarkan data yang dihimpun PUP ESDM DIY pasokan air baku RKI pada tahun 2020 hanya sebesar 3468,61liter /detik.

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Gaya Lufityanti
nrwa.org
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui dinas pekerjaan umum perumahan dan energi sumber daya mineral (PUP ESDM) DIY mencatatkan persediaan air baku Rumah Tangga, Perkotaan, dan Industri  (RKI) atau air bersih diproyeksi mengalami defisit.

Berdasarkan data yang dihimpun PUP ESDM DIY pasokan air baku RKI pada tahun 2020 hanya sebesar 3468,61liter /detik.

Padahal kebutuhan air untuk wilayah DIY pada periode yang sama senilai 9308,92 liter/detik.

Kepala  bidang sumber daya air dan drainase, R.Tito Asung Kumoro Wicaksono mengatakan, perbandingan kebutuhan dengan persediaan air disesuaikan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.

"Untuk wilayah yang penduduknya sekitar 10 ribu jiwa kebutuhan air bersih tiap orangnya sebesar 60 liter per hari. Sedangkan, wilayah yang diisi sebanyak 20 ribu-100 ribu jiwa nilai kebutuhan air bersih tiap orangnya 80 liter-  120 liter per hari. Sehingga, semakin tinggi jumlah penduduk maka kebutuhan air semakin tinggi pula," jelasnya kepada Tribunjogja.com, pada Senin (19/10/2020).

Baca juga: Musim Kering, Upaya Penelusuran Sumber Air Baru di Gunungkidul Dinantikan Warga

Suplai air di DIY didapatkan melalui tujuh sumber yaitu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebanyak 1774, 31 liter/detik.

Kemudian, sistem penyediaan air minum desa (Spamdes) 1152,63 liter per detik.

Lalu, sumur bor 552,25 liter/detik , dan  mata air 438,04 liter/detik.

Kemudian,  dilanjutkan sungai, sumur dangkal, dan embung masing-masing menyuplai sebanyak 363,38 liter/ liter, 252,10 liter/detik, dan 88,53 liter/ detik.

"Sumber air bersih tersebut masih kurang untuk memenuhi kebutuhan di wilayah DIY. Keperluan air bersih paling banyak di daerah Sleman 1846,53 liter/detik dan terendah di daerah Gunungkidul 989,54 liter/detik," ujarnya.

Defisit air bersih, lanjut Tito, masih menjadi permasalahan di DIY sendiri. 

Terutama di daerah-daerah yang memang termasuk wilayah kering yang sulit mendapatkan sumber air.

"Berdasarkan pemetaan kami masih ada 130 wilayah di DIY yang berada di zona kering. Rinciannya, sebanyak 50 titik di wilayah Gunungkidul, Kulon Progo 39 titik, Bantul 31 titik, dan Sleman 10 titik," ungkapnya.

Permasalahan persediaan air bersih, sambungnya, karena berbagai hal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved