Cerita Guru SDN Lempuyangwangi Rela Mengajar Sejak Subuh Agar Semua Siswa Bisa Ikut Belajar Daring
Cerita Guru SDN Lempuyangwangi Rela Mengajar Sejak Subuh Agar Semua Siswa Bisa Ikut Belajar Daring
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Di masa adaptasi kebiasaan baru, para guru dituntut melakukan berbagai terobosan baru agar tetap bisa menjalankan tugasnya secara maksimal.
Hal-hal yang tak pernah terpikir dan terjadi sebelumnya dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) mulai menjadi kelaziman.
Satu di antaranya, yang dilakukan guru-guru di SDN Lempuyangwangi, Yogyakarta.
Mereka memilih waktu mengajar daring tepat sehabis subuh hingga pukul 06.00 WIB.
Hal ini dilakukan demi dapat mengumpulkan semua siswanya di waktu yang sama.
Sebab, jika dilakukan pada jam kerja, HP yang digunakan oleh anak untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ) harus dibawa orang tuanya bekerja.
“Kami baru saja rapat di antara guru-guru, saya mewajibkan untuk ada Zoom Meeting, kesepakatan dengan orang tua memilih waktu yang HP-nya tidak dibawa orang tua bekerja.
Misalnya tadi ditentukan Sabtu pagi habis subuh sampai pukul 06.00 WIB. Itu sudah dilakukan di kelas 6 dan anak-anak antusias,” tutur Kepala SDN Lempuyangwangi, Sutji Rochayati kepada Tribunjogja.com, Selasa (13/10/2020).
Baca juga: Berkas Pengajuan Sumbu Filosofi ke Unesco Dikembalikan, Pemda DIY Lakukan Evaluasi
Menurut Sutji, semangat para siswa dan guru luar biasa untuk melakukan PJJ melalui Zoom Meeting setiap seminggu sekali itu.
Semisal sehari sebelumnya guru sudah mengirimkan link Zoom Meeting, anak akan langsung meminta orang tuanya untuk membangunkan pagi-pagi di keesokan harinya karena ingin bertemu guru dan teman-teman.
“Memang semangat anak dan guru itu luar biasa karena kalau di siang hari kan HP dibawa orang tua.
Paling tugas-tugas saja nanti tanpa ada tatap muka langsung secara daring dengan gurunya.
Nah, paling tidak satu minggu sekali harus ada, silakan pakai Zoom Meeting atau Google Meet, sehingga siswa tatap muka dengan guru. Ternyata antusias sekali anaknya,” paparnya.
Sutji menjelaskan, program baru yang disepakati bersama orang tua ini kerap dilaksanakan saat magrib atau pagi hari, sehingga semua anak bisa mengikuti.
Adapun hal-hal yang dilakukan saat Zoom Meeting, di antaranya guru dapat menyapa, memberi motivasi, dan konsultasi jika anak memiliki kesulitan belajar.
“Yang melakukan wali kelasnya. Berlaku untuk kelas 1-6,” ungkapnya.
Ditanya terkait program guru kunjung yang mana guru mendatangi langsung beberapa orang siswa untuk belajar, Sutji mengungkapkan pihaknya pernah melaksanakan selama 1-2 minggu.
Namun, karena kasus Covid-19 di DIY meningkat kembali akhirnya program itu dihentikan hingga saat ini.
“Kami intensifkan melalui aplikasi-aplikasi dari internet saja dan lancar kok,” imbuhnya.
Ia menambahkan, selama ini SDN Lempuyangwangi mendapat bantuan kuota dari dua sumber, yakni bantuan paket bulanan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta dari pihak ketiga yaitu provider Axis.
“BOS (bantuan operasional sekolah) kami tidak mengeluarkan karena tidak ada di anggaran kami. Pernah Rp100 ribu (dari BOS) hanya sekali untuk guru. Kami memilih menaikkan bandwidth WiFi (sekolah) 10 mbps menjadi 100 mpbs, sehingga bapak ibu guru leluasa dari jam 7 pagi hingga 3 sore bisa memakai dengan lancer,” urainya. (Tribunjogja/Maruti Asmaul Husna)