Breaking News:

Yogyakarta

Tuntutan Upah Rp3 Juta Buruh DIY di Tahun 2021 Dirasa Terlalu Tinggi

Persoalan upah disadari oleh sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Hempri Suyatna sebagai permasalahan yang klasik dan selalu menjadi pembahasan setia

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Ari Nugroho
via makassar.tribunnews.com
Ilustrasi upah 

Hempri melihat antara senyum para buruh dengan senyum penggerak perusahaan kalangan atas masih belum seimbang.

Indikasi tersebut dilihat dari aksi massa yang turun setiap tahunnya menuntut kenaikan upah.

KSPI DIY Ajukan Sepultura, Minta Upah BLT Pekerja Bersifat Permanen

Sementara pemerintah dihadapkan dengan kondisi ekonomi yang setiap tahunnya tidak menentu, yakni kaitannya dengan inflasi dan deflasi.

"Saya kira itu tadi, untuk mengurangi dampak sosial yang luas, perlu adanya komunikasi yang baik antara perusahaan dengan para pekerja. Kalau fungsi pemerintah itu seharusnya bisa menjadi jalan tengah," tegas dia.

Masih kata Hempri, kepercayaan ekonomi di lingkungan pekerja atau buruh dengan perusahaan sejauh ini masih berupa bawahan dan atasan.

Ia membandingkan dengan perusahaan di Amerika Serikat misalnya.

Di sana, para buruh turut memiliki saham meski hanya 5 persen.

Langkah-langkah tersebut menjadi gerbang terjadinya hubungan sosial yang baik antara atasan dengan para buruh.

"Bisa gak perusahaan di Indonesia seperti di Amerika Serikat. Di sana buruh juga memiliki saham, meski hanya 5 persen. Itu mereka akhirnya merasa memiliki dan terjadi komunikasi yang baik," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved