Yogyakarta
Pasir Besi Kulonprogo Diuji di China
Lama tak terdengar kabar kelanjutan pengolahan pasir besi di Kabupaten Kulonprogo, sampel pasir tersebut ternyata sudah dikirim ke Cina untuk diteliti
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lama tak terdengar kabar kelanjutan pengolahan pasir besi di Kabupaten Kulonprogo, sampel pasir tersebut ternyata sudah dikirim ke Cina untuk diteliti kandungan lebih lanjut.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X didampingi Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan Budi Wibowo melakukan video conference dengan Peter Sondakh selaku owner PT Rajawali Corporation yakni investor dari Jakarta yang akan bersama-sama PT Jogja Magasa Iron (JMI) menangani pasir besi tersebut.
"Masalah Kulonprogo, masalah iron sand. Dihidupkan lagi, coba dihidupkan lagi," ujarnya ditemui sesuai video conference di Gedung Pracimasana Kompleks Kepatihan, Selasa (29/9/2020).
Saat ini, Sultan mengatakan bahwa sampel pasir besi telah dites untuk mengetahui apakah memenuhi syarat industri.
• Mulai Tahun 2021 Harga Materai Menjadi Rp 10.000
"Ada investor yang masuk dari Jakarta. Kerjasama dengan Cina (untuk) ngetes pasirnya. Untuk skala industri memenuhi syarat nggak, dalam arti hitungannya berapa persen," urainya.
Ketika nantinya tes menunjukkan hasil yang memungkinkan digunakan untuk industri, maka Sultan mengatakan kandungannya dimungkinkan akan menjadi bahan baku Krakatau Steel.
"Mungkin nanti Krakatau Steel mengurangi impornya biji besi dari Brazil, kira-kira itu," ucapnya.
Ia pun mengatakan, saat ini proses yang sedang dilakukan di Kulonprogo adalah penggalian pasir yang dengan menerapkan protokol kesehatan.
Namun, Sultan tetap berharap agar geliat industri pasir besi nantinya dilanjutkan saat pandemi Covid-19 selesai.
Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan Budi Wibowo menjelaskan bahwa sebanyak kurang lebih 30.000 ton pasir besi telah dikirimkan ke Cina untuk hasil uji coba pabrik pada Juli lalu.
• Waduh! Ada 3 Juta Pemulung Bakal Terdampak Kebijakan Plastik Sekali Pakai
"Hasil iron nanti harus di-up mencapai 70 persen maka layak. Hasil Desember ini. Kemudian setelah hasil oke, baru nanti pembangunan smelter direncanakan pada 2021," ungkapnya.
"Tapi bersamaan itu ada persoalan dengan Krakatau Steel. Krakatau Steel mengajak studi agar bisa tumbuh. Akhirnya mungkin ada kerjasama dengan Krakatau Steel," imbuhnya.
Budi meyakini bahwa hasil dari tes tersebut akan sesuai harapan.
Namun, ditimbang dari kemampuan pasir besi yang ada di Kulonprogo, Budi mengatakan kemampuan pasir besi Kulonprogo berbeda dengan izin yang dikeluarkan.
"Kandungan pasir di Kulonprogop kalau diambil satu tahunnya 1 juta ton maka hanya 20 tahun. Apakah pabriknya 20 tahun tentu tidak, tapi kita bisa mencari pasir dari daerah lain. Izin yg diberikan ESDM 30 tahun ya 30 tahun," pungkasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/gubernur-diy-sri-sultan-hamengku-buwono-x-didampingi-staf-ahli-gubernur-bidang-pembangunan.jpg)