Dedieselisasi Diklaim Mampu Tingkatkan Produktivitas dan Efisiensi Pertanian

Dedieselisasi atau beralihnya penggunaan diesel ke listrik PLN menjadi pilihan jitu untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian.

Penulis: DNA | Editor: MGWR
Dok. Humas Perusahaan Listrik Negara (PLN)
Dedieselisasi menjadi pilihan jitu untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya produksi pertanian, Senin (28/9/2020). 

TRIBUNJOGJA.com – Dedieselisasi atau beralihnya penggunaan diesel ke listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjadi pilihan jitu untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya produksi pertanian.

Hal itu sebagai upaya memudahkan para pejuang ketahanan pangan untuk meningkatkan produksinya seiring dengan kemajuan teknologi pertanian saat ini.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Feby Joko Priharto menyampaikan, dedieselisasi merupakan salah satu komitmen PLN untuk memajukan usaha pertanian dengan menggunakan green energy.

"Sesuai dengan nilai transformasi PLN, yaitu green, PLN berkomitmen untuk berkontribusi dalam sektor pertanian dengan menyediakan energi yang efisien dan ramah lingkungan," ujar Feby, seperti dalam keterangan tertulis yang Tribun Jogja terima, Selasa (29/9/2020).

Pada awal 2020 sampai dengan Agustus, ada sekitar 2.300 pelanggan di wilayah kerja PLN Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Surakarta yang beralih dari diesel ke listrik PLN dengan daya tersambung 8.000 kilo Volt Ampere (kVA).

Sementara itu, di wilayah Jateng dan DIY dari awal tahun sampai dengan Juli 2020 terdapat penambahan sebanyak sekitar 2.500 pelanggan. 

Adapun untuk ke depannya, Feby berharap akan semakin banyak para pengusaha yang beralih ke listrik PLN. Dengan begitu ekonomi daerah akan semakin berkembang.

Manfaat dedieselisasi pun sudah dirasakan sejumlah petani di Kabupaten Boyolali.

Menurut pimpinan pabrik bidang pembenihan padi wilayah Boyolali Sucipto Sudali, setelah beralih dari diesel ke listrik PLN, biaya produksi bisa ditekan jauh, bahkan mencapai 50 persen.

Sucipto sendiri mulai beralih ke listrik PLN sejak Maret 2020.

"Sebelumnya biaya produksi dengan diesel sekitar Rp 20 juta, setelah menggunakan listrik bisa hemat sampai dengan setengahnya,” jelasnya, Senin (28/9/2020).

Sucipto menambahkan, dengan penggunaan listrik untuk produksi, benih juga selalu ready stock setiap saat tanpa harus menunggu musim.

Selain itu dengan efisiensi yang didapat setelah menjadi pelanggan PLN, harga benih yang ditawarkan ke petani pun menjadi lebih terjangkau sehingga berdampak pada perekonomian sekitar.

Tags
pertanian
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved