Jakob Oetama Wafat
Jakob Oetama, Rasa Cintanya kepada Manusia, Pendidikan dan Wartawan . . .
Lewat sebuah pernyataan singkat yakni "Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak," ia pun memantapkan hati.
Jakob juga sempat diterima jadi dosen di Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung. Pihak Unpar bahkan menyediakan rumah dinas serta beasiswa untuk gelar PhD di Universitas Leuven, Belgia.
Di tengah kegalauannya itu, Jakob bertemu dengan Pastor JW Oudejans OFM, pimpinan umum di mingguan Penabur. Lewat sebuah pernyataan singkat yakni "Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak," ia pun memantapkan hati.
• Obituari: Kebimbangan Jakob Oetama, antara Jadi Guru atau Jurnalis . . .
"Itulah titik balik masa depan yang harus saya gulati. Menjadi wartawan profesional, bukan guru profesional," ujar Jakob. Dirikan Intisari dan munculnya harian Kompas Di tahun 1958, Jakob bertemu dengan Petrus Kanisius Ojong dalam sebuah kegiatan jurnalistik.
Waktu itu, Ojong memimpin dua media, yakni harian Keng Po dan Star Weekly. Dari pertemuan pertama, keduanya sering berjumpa di kegiatan sosial, politik, dan budaya. Sampai akhirnya di tahun 1960-an situasi politik begitu mengekang di tengah pengaruh besar Partai Komunis di pemerintahan.
Di tahun 1961-1962, dua media yang dipimpin Ojong, Keng Po dan Star Weekly diberangus pemerintah karena sikap kritisnya.
Suatu hari, keduanya bertemu di pementasan sendratari Ramayana di Prambanan, Jawa Tengah. Perjumpaan itu berlanjut dengan makan ayam goreng Mbok Berek. Di tengah pembicaraan, Ojong mengajak Jakob mendirikan sebuah majalah baru.
Media itu diproyeksi untuk menerobos kekangan informasi oleh pemerintah. Akhirnya, berdirilah Intisari di tahun 1963. Majalah ini banyak memuat artikel-artikel cerita manusia yang membuka mata dan telinga masyarakat di tengah terbatasnya informasi. Intisari terbit di hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-18. Sebanyak 10.000 eksemplar disebar ke berbagai daerah.
Per eksemplar dijual seharga Rp 60 untuk wilayah Jakarta, Rp 65 di luar Jakarta.
Majalah ini banyak merekrut penulis-penulis hebat di masa itu seperti Nugroho Notosusanto yang kelak menjadi Mendikbud di era Orde Baru.
Ada juga Soe Hok Djin (Arief Budiman) dan adiknya Soe Hok Gie yang dikenal sebagai aktivis mahasiswa, serta Kapten Ben Mboi yang kemudian jadi Gubernur Nusa Tenggara Timur.
Di tengah masa jaya Intisari, Menteri Perkebunan Frans Seda dari Partai Katolik meminta keduanya untuk mendirikan surat kabar Partai Katolik atas permintaan Panglima TNI AD Letjen Ahmad Yani. Alasannya, waktu itu hampir semua partai memiliki media sebagai corong partai. Dari usulan itu, Ojong dan Jakob bersepakat mendirikan koran.
Meski diinisiasi oleh tokoh Partai Katolik, koran ini bukan menjadi corong partai. Koran ini memiliki posisi berdiri di atas semua golongan, oleh karena itu bersifat umum, majemuk, cermin atas realitas Indonesia, diatas suku, agama, ras dan latar belakang lainnya.
"Dia harus mencerminkan miniaturnya Indonesia," kata Jakob. Koran ini pertama kali diberi nama Bentara Rakyat dan motonya Amanat Penderitaan Rakyat. Tapi Bung Karno tak sepakat dengan nama itu. Lewat Frans Seda, ia mengusulkan nama Kompas yang akhirnya digunakan hingga saat ini.
• Pak Jakob Akan Mendapat Penghormatan Terakhir di Kantor Kompas Gramedia
Peninggalan Jakob
Nilai luhur yang diwariskan Jakob terhadap Kompas ialah pandangan tentang kemanusiaan yang beriman. Pandangan ini selalu menjadi dasar dalam setiap pemberitaan Kompas, Kompas.com dan Kompas TV.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pendiri-kompas-gramedia-jakob-oetama.jpg)