Bank Indonesia Ingin UMKM Naik Kelas
Bank Indonesia (BI) ingin mendorong Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk bisa berorientasi ekspor
TRIBUNJOGJA.COM -- Bank Indonesia (BI) ingin mendorong Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk bisa berorientasi ekspor. Pasalnya, hingga saat ini baru sekitar 118 UMKM atau sekitar 12,29% dari total 960 UMKM yang sudah memiliki potensi ekspor.
"Kita ingin mengembangkan UMKM ini untuk naik kelas sehingga lebih sukses dan masuk ke dunia global," kata Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo, seperti dilansir Kontan, Minggu (30/8/2020).
Dody mengaku, hal tersebut tidak mudah. Tantangannya, bagaimana menyediakan produk yang premium serta memiliki pasar yang kuat. Selain itu, butuh waktu serta kekuatan masing-masing UMKM berbeda-beda.
"Jadi, memang kita harus all out. Nggak bia setahun, dua tahun. Benar-benar harus bekerja sama juga dengan otoritas terkait seperti pemerintah daerah setempat, dan lain-lain," katanya.
Selain itu, masalah lain juga muncul dari sisi digitalisasi. Menurut Dody, hanya sekitar 13% UMKM Indonesia yang baru digitalisasi. Itu pun kadang masih belum maksimal dan sering sekali menemui kendala.
Ia mencontohkan, saat ingin dihubungi atau ada yang ingin membeli lewat digital, kadang tidak bisa dihubungi. Dalam kata lain, UMKM tidak siap untuk online selama 24 jam selama 7 hari. Ada juga kendala dalam hal marketing dan distribusi.
Untuk itu, bank sentral pun mengaku siap untuk selalu sigap dalam mendampingi UMKM untuk bisa bertumbuh dan go digital, serta bisa mengekspor. Apalagi, di saat kondisi Covid-19 ini, banyak yang melakukan transaksi secara online.
"Kami pokoknya bertekad kalau program BI adalah untuk mendorong UMKM ke pasar global. Seperti negara-negara lain, Malaysia, China, Argentina, sudah memanfaatkan teknologi," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/peritel_gvhbj_20160524_181552.jpg)