D614G, Mutasi Covid-19 Ditemukan di Malaysia. Ini Kata Ahli
Kementerian mendeteksi mutasi Covid-19 tipe D614G dalam tes kultur sampel yang diambil dari tiga kasus yang terkait dengan cluster Sivagangg
Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM, KUALA LUMPUR - Meskipun penemuan variasi "super spreader" dari Covid-19 di Malaysia memprihatinkan, para ahli percaya bahwa belum ada alasan untuk membunyikan alarm.
Mereka percaya bahwa kemampuan pihak berwenang untuk mengelola situasi, ditambah dengan kepatuhan publik secara keseluruhan terhadap prosedur operasi standar (SOP) yang berlaku, akan membantu mengarahkan Malaysia ke perairan yang lebih tenang.
Kementerian Kesehatan kemarin memastikan telah mendeteksi mutasi Covid-19 tipe D614G dalam tes kultur sampel yang diambil dari tiga kasus yang terkait dengan cluster Sivagangga dan satu dari Cluster Ulu Tiram.
Varian D614G telah mendapatkan reputasi yang berbeda karena dilaporkan 10 kali lebih mungkin untuk menginfeksi individu lain dan lebih mudah disebarkan oleh individu "penyebar super", dibandingkan dengan varian D614 sebelumnya.
Profesor Datuk Dr Awang Bulgiba Awang Mahmud, seorang ahli epidemiologi dari Universiti Malaya, mengatakan belum dapat dibuktikan bahwa keberadaan varian mutan D614G akan mempengaruhi tingkat keparahan Covid-19 di Malaysia.
Dia percaya hal itu seharusnya tidak berpengaruh banyak pada tindakan kesehatan masyarakat untuk saat ini.
"Ini karena langkah-langkah kesehatan masyarakat yang sama berlaku efektif untuk varian D614 sebelumnya dan G614 saat ini," katanya dikutip TribunJogja.com dari New Strait Times.
Turunan Covid-19 asli di China dijuluki D614, sedangkan versi mutasi yang ditemukan di Inggris, Italia, dan Amerika Utara pada Mei disebut G614.
Varian G614, kata Dr Awang Bulgiba, telah menjadi varian dominan di beberapa negara.
"Telah dilaporkan bahwa varian G614 sekarang menyumbang 70 persen dari virus Covid-19 yang dipelajari."
Dia meredakan kekhawatiran tentang tingkat kematian yang lebih tinggi di negara lain dan mengatakan itu mungkin bukan karena varian baru yang lebih parah.
"Bisa juga karena fasilitas kesehatan negara-negara ini kewalahan dengan banyaknya pasien, sehingga kualitas perawatan menjadi lebih rendah," katanya.
Masalah dengan vaksin
Namun, dia mengatakan mungkin ada masalah dengan perkembangan vaksin.
“Kami belum tahu apakah kandidat vaksin yang sedang menjalani uji coba akan melindungi dari varian baru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/4-warganya-terpapar-covid-19-pemkab-bantul-ada-kemungkinan-transmisi-lokal.jpg)