Breaking News:

Sleman

Petani Cabai di Kalasan Mengolah Cabai Agar Memiliki Nilai Ekonomi Tinggi

Harga cabai masih fluktuatif dan ketika harga jual cabai menurun, membuat petani harus putar otak agar nilai ekonomi cabai tetap tinggi.

TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Rukun di Kalasan Sleman memasarkan olahan cabai 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Harga cabai masih fluktuatif dan ketika harga jual cabai menurun, membuat petani harus putar otak agar nilai ekonomi cabai tetap tinggi.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Rukun di Kalasan Sleman, menyiasati hal tersebut dengan mengolah cabai menjadi produk konsumsi lain.

Petani cabai yang juga Ketua Forum Petani Kalasan Janu Riyanto mengatakan, harga cabai di tingkat petani kadang sangat murah.

Bahkan di satu kesempatan, ada kondisi cabai yang tidak laku dijual.

Menyikapi hal tersebut, Janu mencoba agar cabai dipasarkan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dengan memberdayakan ibu-ibu dari KWT, hasil panen cabai diolah menjadi produk konsumsi lainnya.

Petani Kalasan Kembangkan Varietas Cabai yang Lebih Berkualitas dan Memiliki Nilai Ekonomis Tinggi

"Kami olah cabai menjadi beberapa produk seperti bon cabai, abon cabai, minyak, manisan cabai, sirup cabai dan aneka olahan sambal," ungkapnya saat dikonfirmasi baru-baru ini.

Janu menjelaskan, agar produk olahan juga bisa berkualitas bagus, maka pihaknya bersama KWT mencari ilmunya dengan belajar dari internet.

Selain itu juga menggandeng Balai Pengkajian Teknologi Pertanian DIY (BPTP) dan dinas terkait lainnya untuk memberikan pelatihan.

Meski sudah ada produk olahan cabai yang dihasilkan, namun menurutnya respons masyarakat saat ini belum terasa.

Menurutnya, pesanan yang datang saat ini masih berasal dari dinas, Muspika dan kelompok tani di wilayah lain.

Nelangsa Petani Cabai di Bantul, Harga Anjlok saat Panen Raya

Hal itu lantaran harga cabai yang saat ini masih murah, dan membuat permintaan cabai segar juga masih banyak.

"Kalau harga cabai sedang tinggi, mungkin berbagai olahan cabai ini akan laku. Sejauh ini paling laku bon dan abon cabai," bebernya.

Dalam kesempatan itu, Janu juga menggandeng generasi muda untuk memasarkan produk ini melalui sosial media. Selain itu juga dengan mengolah tanaman cabai varietas prima agrihorti.

"Varietas ini yang dibutuhkan kan hanya bijinya saja untuk kepentingan pembibitan. Dagingnya daripada jadi limbah kan bisa diolah ibu-ibu KWT," jelasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Santo Ari
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved