West Bromwich Albion dan Leeds United Promosi ke Premier League
Klub West Bromwich Albion atau West Brom menyusul pemuncak Divisi Championship Leeds United naik kasta ke Liga Primer musim 2020-2021.
Hal ini terbukti fatal ketika mereka finish peringkat keempat dan kelima pada 2000-20001 dan 2001-2002, sehingga gagal lolos ke Liga Champions untuk dua tahun beruntun.
Klub pun terpaksa menjual pemain-pemain terbaik mereka, termasuk Rio Ferdinand ke rival berat mereka, Manchester United.
Alhasil, Leeds melorot dari peringkat kelima menjadi ke-15 pada 2002-2003 dan terdegradasi pada 2003-2004 dalam keadaan finansial yang gawat darurat.
Kendati Leeds hampir promosi di bawah pelatih Kevin Blackwell pada 2005-2006, kesulitan finansial klub membuat Leeds masuk administrasi dan diturunkan ke League One, kasta ketiga Liga Inggris.
Ini adalah awal momen tak menentu klub dengan Leeds menunjuk 14 pelatih selama 15 tahun berikutnya. Leeds juga harus menerima pengurangan poin minus 15 di League One pada awal 2007-2008.
Baru setelah tiga tahun di League One, Leeds kembali ke Championship. Akan tetapi, Leeds menghadapi beberapa tahun kesemenjanaan di paruh bawah kasta kedua Liga Inggris tersebut.
Babak baru datang setelah klub diambil alih oleh pemilik baru kontroversial Massimo Cellino, yang juga presiden Cagliari ketika itu, pada April 2014.
Kehadiran Cellino menjadi awal dari beberapa tahun penuh drama di mana ia didiskualifikasi dari Football League setelah dirinya terbukti bersalah menghindari pembayaran pajak oleh pengadilan Italia.
Kendati Cellino tidak bisa kembali ke klub, ia tetap memegang kendali Leeds. Sang pemilik melakukan serangkaian pergantian pelatih nan aneh, termasuk saat menunjuk pelatih tim junior David Hockaday hanya untuk menukangi klub selama 70 hari dan juga Darko Milanic, yang hanya bertahan 36 hari.
Barulah pada Januari 2017, pengusaha asal italia, Andrea Radrizzani, pelan-pelan mengambil alih kepemimpinan klub dari Cellino.
Pada Mei 2017, Radrizzani akhirnya membeli sisa 50 persen saham dari Cellino. Kestabilan di manajemen atas ini menurun ke skuad bermain dengan Radrizzani menunjuk Marcelo Bielsa pada Juni 2018.
Pelatih kelas dunia itu menggebrak sepak bola Eropa dengan metode kepelatihan penuh intensitas bersama timnas Argentina, Chile, dan Athletic Bilbao. Leeds bertransformasi pada 2018-2019, menghadirkan gaya sepak bola yang hampir tak pernah dipraktekkan di level tersebut sebelumnya.
Leeds bermain dari belakang dengan para pemain memaksimalkan lebar lapangan. Permainan pressing mereka tiada dua, dimulai dari para penyerang. Namun, Bielsa juga sempat mendulang kontroversi setelah ia ketahuan sering mengirim staff-nya untuk mengintip sesi latihan tim lain.
Musim pertama Bielsa yang begitu menjanjikan berakhir dengan kekecewaan. Performa klub merosot pada paruh kedua musim tersebut dan mereka akhirnya kalah di playoff. Pada awal musim ini, klub juga kehilangan dua figur kunci, Pontus Jansson dan Keemar Roofe. Akan tetapi, mereka berhasil meyakinkan Marcelo Bielsa untuk bertahan.
"Sepak bola gaya Bielsa sangatlah karismatik, mengikuti jejak kakinya akan sesulit seperti menemukan pengganti (pelatih legendaris) Don Revie," tulis The Yorkshire Post.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/leeds-united-balik-ke-liga-utama-inggris-setelah-16-tahun.jpg)