Gunungkidul
Dibangun Sejak 2018, IPAL Industri Tahu & Tempe Sudah Kelebihan Kapasitas
Lantaran banyaknya industri pembuatan tahu dan tempe di wilayah tersebut membuat IPAL yang sudah dibangun kelebihan kapasitas.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Alexander Ermando
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Beberapa waktu lalu, warga di Pedukuhan Besari, Siraman, Wonosari mengeluhkan tercemarnya Kali Pancuran akibat limbah hasil industri pembuatan tahu dan tempe.
Berdasarkan penelusuran warga, ada jaringan pipa pembuangan yang langsung tertuju ke sungai tersebut.
Rupanya, pipa tersebut dibangun dengan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul.
Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris DLH Gunungkidul Aris Suryanto.
"Kami pernah bangunkan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) pada 2018 lalu," kata Aris lewat pesan singkat, Selasa (21/07/2020).
• Bantu Petani Sayur dan Warga, Pedukuhan Walikan Wonosari di Gunungkidul Dirikan Pasar Sedekah
Aris mengatakan jaringan pipa tersebut dibangun untuk memfasilitasi limbah industri tahu-tempe di Sumbermulyo, Kepek, Wonosari.
Pelatihan terkait perawatan IPAL ke pelaku usaha pun sudah dilakukan.
Namun lantaran banyaknya industri pembuatan tahu dan tempe di wilayah tersebut membuat IPAL yang sudah dibangun kelebihan kapasitas.
Akibatnya, pengolahan limbah pun tak berfungsi dengan baik.
"Seharusnya yang dibuang ke sungai itu limbah yang sudah diolah dan sudah bersih, namun karena kelebihan kapasitas IPAL tak bisa berfungsi dengan baik," jelas Aris.
• BREAKING NEWS : Lonjakan Kasus, 8 Warga Sewon Dinyatakan Positif Covid-19
Meski kelebihan kapasitas, Aris menegaskan kajian sudah dilakukan sebelum IPAL dibangun.
Para pelaku usaha pun sudah mengetahui bahwa kapasitas IPAL tersebut memang terbatas.
DLH Gunungkidul mengharapkan agar para pelaku usaha memperbaiki dan memperluas sistem IPAL yang sudah ada.
Upaya mediasi pun sudah berkali-kali coba dilakukan dengan pemilik industri.
"Sudah berkali-kali dilakukan, namun tak ada pelaku usaha yang datang," ungkap Aris.
Menurutnya, masalah akan selesai jika pelaku usaha bersedia mengembangkan IPAL secara mandiri.
• Destinasi Wisata Uji Coba Bertambah, Dispar Gunungkidul Tetap Terapkan Pembatasan Pengunjung
Jika bergantung pada DLH, Aris mengaku sulit dilakukan karena keterbatasan anggaran.
Wartawan pun sempat mencoba mengkonfirmasi polemik IPAL ini ke pelaku industri di Sumbermulyo beberapa waktu lalu.
Namun, tak ada yang bersedia ditemui.
Keberadaan pipa IPAL tersebut sebelumnya juga sudah disampaikan oleh Lurah Kepek, Bambang Setiawan.
Menurutnya, pelaku industri sudah diimbau agar mengolah limbah sebelum dibuang ke Kali Pancuran.
"Kalau memang IPAL-nya tidak berfungsi dengan baik, mestinya ada pendampingan dari dinas terkait," kata Bambang beberapa waktu lalu. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/dibangun-sejak-2018-ipal-industri-tahu-tempe-sudah-kelebihan-kapasitas.jpg)