Apa Kata Ahli Epidemiologi Soal Lonjakan Kasus Covid-19 di Yogyakarta

Ahli Epidemiologi Universitas Gajah Mada (UGM) dr. Riris Andono Ahmad membantah adanya anggapan gunung es Covid-19 mencair tanpa disadari.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjogja.com | Hasan Sakri
SENI MURAL LAWAN COVID-19. Pengguna jalan melintas didepan mural tentang virus Covid-19 di Kota Gede, Kota Yogyakarta, Selasa (16/6/2020). Mural yang mengambarkan perjuangan melawan pandemi virus Covid-19 tersebut kembali terus mengingatkan kita untuk terus berjuang bersama dengan menjaga protokol kesehatan untuk saling melindungi. 

TRIBUNJOGJA.COM, Yogyakarta -- Tambahan kasus Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi 16 kasus terkonfirmasi jadi catatan terbanyak sepanjang sejarah kasus virus corona di Yogyakarta.

Ahli Epidemiologi Universitas Gajah Mada (UGM) dr. Riris Andono Ahmad mengatakan, penambahan kasus positif kali ini merupakan hal yang baru.

Dirinya pun belum berani menyimpulkan apakah ini artinya reproduksi Covid-19 di DIY mulai meningkat dan tidak diketahui.

"Saya belum bisa memberi penjelasan mendetail hari ini. Karena ini sesuatu yang baru. Penambahan yang signifikan," katanya kepada Tribunjogja.com, Minggu (19/7/2020)

Doni menambahkan, informasi yang diberikan oleh juru bicara penangan Covid-19 Pemda DIY cukup masuk akal.

Pasalnya, untuk saat ini Pemda DIY sudah tidak lagi menggunakan rapid test untuk keperluan pemeriksaan awal.

"Sekarang kan sudah pakai PCR, bukan lagi rapid test. Jelas penularan lokal dapat diketahui dan sangat masuk akal kalau ada peningkatan konfirmasi kasus," ungkapnya.

Persoalannya, untuk menghitung seberapa banyak transmisi lokal itu menyebar, butuh dilakukan eksplorasi lebih lanjut mengenai data-data tracing.

Pada Mei lalu, sumber big data Bonza mencatat angka reproduksi Covid-19 masih diangka 0,92.

Pesepeda mengenakan masker untuk di masa pandemi virus Covid-19 melintas di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, Kamis (9/7/2020)
Pesepeda mengenakan masker untuk di masa pandemi virus Covid-19 melintas di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, Kamis (9/7/2020) (Tribunjogja.com | Hasan Sakri)

Doni tidak menyimpulkan secara tegas apakah reproduksi Covid-19 khususnya di DIY ini mengalami peningkatan seiring dengan kasus harian yang fluktuatif tersebut.

"Ya kalau dihitung bisa saja. Tapi saya tidak fokus itu. Namun, data harian saja tidak cukup kuat, karena pasti ada noise dalam pemeriksaan," tegasnya.

Lebih lanjut, Doni mengatakan, untuk melihat perkembangan reproduksi Covid-19 perlu melakukan kajian mendalam.

Misalnya, memperhatikan trend perkembangan yang saat ini terjadi.

Jika melihat data harian, selama dua pekan pada bulan Juli kasus terkonfirmasi di DIY menurutnya banyak berasal dari kasus import.

"Untuk itu perlu adanya pengawasan yang ketat. Bisa jadi ada delay kasus import kemudian hasil lab baru keluar dua minggu setelahnya. Akhirnya import kasus positif itu sudah menyebar luas," tuturnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved