Update Corona di DI Yogyakarta

BI : Ekonomi DIY Terancam Resesi Jika Konsumsi Tidak Digalakkan

Wilayah setempat dimungkinkan akan mengalami resesi jika roda perekonomian belum mengalami pergerakan di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang.

TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon
Miyono, Deputi Direktur BI DIY (tengah) saat memaparkan materi dalam diskusi yang digelar di PD Taru Martani Sabtu (18/7/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bank Indonesia Kantor Perwakilan (BI KPw) DIY menyebut, wilayah setempat dimungkinkan akan mengalami resesi jika roda perekonomian belum mengalami pergerakan di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. 

BI KPw DIY sendiri memang belum merilis hasil perhitungan pertumbuhan ekonomi setempat.

Namun, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan kedua ini minus mencapai tiga persen. 

"Sehingga harapan kami dana-dana maupun bantuan kepada masyarakat yang masih tertahan agar segera diselesaikan, sehingga pada triwulan berikutnya pertumbuhan ekonomi bisa dipacu agar tidak mengalami resesi," ungkap Miyono, Deputi Direktur BI DIY Sabtu (18/7/2020). 

BREAKING NEWS : Update Covid-19 di DIY 17 Juli 2020, Tambahan 4 Kasus Positif Baru

Miyono berpendapat, suatu daerah dikatakan mengalami resesi jika selama dua triwulan berturut-turut pertumbuhan ekonomi menunjukkan angka minus.

Pihaknya telah mendeteksi dan berkolaborasi dengan dinas serta instansi terkait agar stimulus perekonomian dapat segera diberikan dalam waktu dekat. 

Menurut dia, kunci dari penanganan ekonomi di masa pandemi Covid-19 yakni kembali menggairahkan sektor konsumsi di tengah masyarakat.

Konsumsi memegang peranan yang cukup penting bagi roda penggerak perekonomian. 

"Fenomena yang sekarang kita lihat kan masyarakat cenderung menahan uang karena takut. Sektor ekonomi lain pun seperti produksi dan distribusi tidak berjalan seperti biasa, makanya dari dinas kita juga mendorong bagaimana agar program-program yang terhenti itu bisa kembali berjalan, sehingga efeknya bisa dilihat ke depan," jelas dia. 

Padahal, kata dia, BI telah menurunkan suku bunga acuan di masa pandemi ini dengan harapan perbankan juga mengikuti dengan menurunkan suku bunga kredit maupun deposito.

Pemda DIY Diharapkan Serius Garap Sektor Pariwisata untuk Pulihkan Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19

Di sisi lain, Giro Wajib Minimum (GWM) juga telah dipangkas agar perbankan dapat menyalurkan lebih banyak kredit pada masyarakat. 

"Tapi yang kita lihat bukan demikian, perbankan juga masih belum banyak menyalurkan kredit ke masyarakat. Kalau dana itu diendapkan di perbankan makanya jadi masalah dan ujungnya lari ke BI dan muter kembali disana. Kuncinya memang di sektor riil yang mesti digalakkan kembali agar proses recovery ekonomi ini optimal," tegas dia. 

Dia menambahkan, baik Pemda, Pemkot maupun Pemkab mesti segera mengeksekusi stimulus-stimulus maupun program dan sejumlah proyek yang mungkin dijalankan di masa pandemi ini.

Harapannya konsumsi akan menimbulkan multiplier effect (angka pengganda) bagi sektor lain. 

"Terutama pada sektor-sektor andalan ya. Kalau DIY bisa di sektor pariwisata dan manufaktur. Namun yang mesti diingat harus tetap dengan mematuhi aturan protokol kesehatan Covid-19," pungkas dia. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved