Update Corona di DI Yogyakarta
Permintaan Gawai Bekas di Yogya Meningkat Selama Pembelajaran Daring
Semenjak pandemi merebak, tak hanya orang dewasa, gawai pun menjadi kebutuhan baru bagi anak-anak.
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di zaman serba canggih, kepemilikan gawai menjadi kebutuhan di masyarakat.
Namun, semenjak pandemi merebak tak hanya orang dewasa, gawai pun menjadi kebutuhan baru bagi anak-anak.
Satu diantaranya dipengaruhi akan pemberlakukan sistem pembelajaran secara daring pada masa pandemi.
Seorang pemilik toko Bedjo Phone, Fendi Saputro (33) di Jalan Moses Gatot Kaca, Mrican, Kota Yogya mengatakan, dalam sehari tokonya bisa didatangi sepuluh orang yang mencari gawai bekas terutama didominasi orangtua.
• Gubernur DIY : Pembelajaran di Rumah Saja Lewat Online
"Iya semenjak diperpanjangnya sekolah online, sekitar seminggu lalu permintaan handphone bekas sudah ramai. Dalam sehari saja, bisa sekitar sepuluh orang yang datang untuk cari itu (gawai bekas)," jelasnya kepada TRIBUNJOGJA.COM, pada Kamis (17/07/2020).
Namun, Fendi menuturkan, permintaan yang tinggi tak sebanding dengan persediaan gawai bekas di toko miliknya.
Sejak, April 2020 lalu, sudah tidak ada lagi stok gawai bekas di tokonya.
"Sulit sekarang mencari orang yang hendak menjual handphonenya. Padahal sebelum pandemi, dalam sehari paling tidak 3 hingga 5 ada yang menjual. Kalau sekarang, satu saja belum tentu ada," terangnya.
Adapun kebanyakan orangtua mencari handphone bekas dengan harga di bawah Rp1 juta.
Gawai yang dibanderol dengan harga miring, lanjut Fendi sudah sulit untuk ditemukan, karena biasanya harga segitu hanya berlaku pada gawai keluaran tahun lama sekitar 2015.
• BREAKING NEWS : Update Covid-19 di DIY 17 Juli 2020, Tambahan 4 Kasus Positif Baru
"Ya, kebanyakan para orangtua mencari harga miring, padahal stok kami palingan hanya dua saja. Karena untuk handphone seharga itu stoknya sedikit sekali, rata-rata handphone bekas masih di sekitar harga Rp1 juta ke atas," ujarnya.
Sementara itu, Wiyono (47), pembeli yang sedang mencarikan gawai bekas untuk anaknya sebagai keperluan pembelajaran daring mengakui, hanya mencari spesifikasi gawai bekas dengan harga murah.
"Anak saya kan masih sekolah dasar (SD), jadi belum begitu perlu pakai handphone yang mahal. Ini saja beli karena terpaksa memang butuh untuk sekolah, soalnya di rumah hanya punya tiga handphone, dan semuanya terpakai," terangnya.
Dipilihnya gawai bekas, kata Wiyono, karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan gawai baru.
"Kalau beli handphone baru saya tidak ada uang, maka nya ini sudah keliling tujuh toko untuk mencari yang bekas namun jarang ada yang menjual di bawah harga Rp1 juta," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/permintaan-gawai-bekas-di-yogya-meningkat-selama-pembelajaran-daring.jpg)